PENGEMBANGAN
BAHAN AJAR BIPA MELALUI MATERI OTENTIK
YANG
BERMUATAN BUDAYA INDONESIA
Anneke Heritaningsih Tupan-atupan@peter.petra.ac.id
BIPA FS-UK Petra
ABSTRAK
Salah satu masalah dalam belajar bahasa asing adalah
adanya kesenjangan antara bahasa pertama dan bahasa target yang akan
dipelajari.Hal ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan bahasa target
oleh pembelajar bahasa asing. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin jauh
kesenjangan itu, semakin sulit proses pembelajarannya; dan semakin dekat kesenjangan
itu, semakin mudah proses pembelajarannya. Hal ini sejalan dengan apa yang
dikatakan oleh Grabe (1986) bahwa problem belajar bahasa asing muncul sebagai
akibat dari perbedaan-perbedaan linguistis dan sosiokultural dari bahasa
pertama dan bahasa target. Pada situasi seperti ini maka penggunaan pendekatan
yang tepat dan pemilihan bahan ajar yang fungsional memiliki peranan yang
sangat penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran bahasa asing.
Oleh karena itu pemakaian materi otentik (authentic-materials)
akan sangat membantu pembelajar, terutama bagi mereka yang belum mengenal
bahasa target sama sekali. Pemakaian materi ajar yang otentik tentu harus
disertai dengan pendekatan komunikatif integratif karena hal ini juga akan
membangkitkan minat pembelajar dan memelihara keterlibatan pembelajar terhadap
subyek yang sedang dipelajarinya. Salah satu bagian yang sering terlupakan
dalam pengajaran BIPA adalah komponen budaya Indonesia. Pembelajar BIPA sering mengalami
benturan budaya ketika mereka masuk ke dalam situasi budaya ini. Masalah ini
dapat dijembatani dengan cara menggunakan materi otentik yang bermuatan budaya
Indonesia sebagai bahan ajar BIPA. Materi otentik dapat diambil dari surat
kabar, rekaman berita televisi tentang berbagai kejadian di Indonesia, program
radio, daftar menu rumah makan, iklan
dsb. Dengan berbekal materi tersebut diharapkan kesadaran pembelajar
BIPA tentang budaya Indonesia akan sangat membantu pembelajar dalam mengaktualisasikan
diri mereka secara tepat di dalam bahasa Indonesia.
Kata kunci: komunikatif-integratif,
linguistis, sosiokultural, materi otentik
Pengantar:
Membuat definisi budaya Indonesia merupakan hal yang
sangat sulit karena banyak yang beranggapan bahwa budaya Indonesia itu tidak
ada. Yang ada adalah budaya masing-masing suku di Indonesia. Namun marilah kita
tidak usah susah payah mendefinisikan budaya Indonesia ini. Yang kita lihat di
sini adalah jalan pemikiran serta tata cara hidup orang-orang di Indonesia yang
akhirnya membentuk terminologi 'budaya Indonesia'. Sementara itu banyak juga yang
berpendapat bahwa budaya itu tidak dapat diajarkan, jadi mengapa kita perlu
membahas komponen budaya dalam pengajaran BIPA? Barangkali untuk lebih tepatnya
adalah kita berupaya menanamkan kesadaran budaya Indonesia yaitu segala sesuatu
yang berkaitan dengan Indonesia.
Pada kenyataannya kesadaran pembelajar BIPA tentang budaya Indonesia akan sangat membantu pembelajar dalam mengaktualisasikan diri mereka secara tepat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh klasik yang sangat sering dipakai adalah pertanyaan-pertanyaan: “mau kemana?, dari mana?, anaknya berapa?, gajinya berapa?, sudah menikah?, kok belum menikah?” yang sering menyebabkan pembelajar terheran-heran dengan keingintahuan orang Indonesia terhadap urusan orang lain.
Pada kenyataannya kesadaran pembelajar BIPA tentang budaya Indonesia akan sangat membantu pembelajar dalam mengaktualisasikan diri mereka secara tepat di dalam bahasa Indonesia. Salah satu contoh klasik yang sangat sering dipakai adalah pertanyaan-pertanyaan: “mau kemana?, dari mana?, anaknya berapa?, gajinya berapa?, sudah menikah?, kok belum menikah?” yang sering menyebabkan pembelajar terheran-heran dengan keingintahuan orang Indonesia terhadap urusan orang lain.
Beberapa ungkapan dalam bahasa Indonesia
dianggap melampaui batas kewajaran oleh pembelajar BIPA, yaitu: “wah gemuk
sekali” dan “anaknya lucu ya” yang berati positif di Indonesia namun memuat
konotasi negatif dalam konsep budaya barat. Pertanyaan-pertanyaan pada kelompok
pertama dan ungkapan-ungkapa pujian pada kelompok kedua tentu saja harus
dipahami sebagai komponen fungsi bahasa yang harus dijelaskan dalam konteks
budaya dan tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa si pembelajar begitu saja.
Seringnya ditemui keluhan tentang betapa inginnya orang Indonesia mencampuri
urusan orang lain dalam konteks komunikasi menggunakan bahasa Indonesia,
menunjukkan betapa minimnya pembahasan
komponen budaya dalam BIPA. Dalam contoh tersebut di atas, seperti yang tersirat dalam pertanyaan dan ungkapan pujian, komponen budaya bisa dikenalkan kepada murid, paling tidak sebagai catatatan budaya, di mana guru bisa menyinggung masalah ini bahkan pada hari pertama pelajaran BIPA dimulai dengan menggunakan topik “greeting” atau memberi salam yang bahan ajarnya diperoleh dari materi otentik (authentic materials).
komponen budaya dalam BIPA. Dalam contoh tersebut di atas, seperti yang tersirat dalam pertanyaan dan ungkapan pujian, komponen budaya bisa dikenalkan kepada murid, paling tidak sebagai catatatan budaya, di mana guru bisa menyinggung masalah ini bahkan pada hari pertama pelajaran BIPA dimulai dengan menggunakan topik “greeting” atau memberi salam yang bahan ajarnya diperoleh dari materi otentik (authentic materials).
Silabus dan kurikulum BIPA perlu
mencantumkan komponen budaya ini untuk melengkapi pengajaran BIPA. Pada sisi
lain pengajar juga harus memiliki pengetahuan tentang budaya Indonesia. Apa
yang ingin diajarkan lewat komponen budaya tergantung bukan saja pada kurikulum
dan silabus BIPA yang diciptakan atau diadopsi oleh pengajar. Komponen itu
harus mengacu pada kepentingan pembelajar dalam mempelajari bahasa Indonesia.
Ada beberapa hal yang perlu disampaikan bahwa kesadaran tentang budaya
Indonesia ini bukan hanya melingkupi apa yang dapat dilihat dengan jelas
(tarian, drama, adat istiadat, praktek-praktek keagamaan), namun hal tersebut
juga mencakup permasalahan yang tak terhingga banyaknya, misalnya konsep
menghormati yang lebih tua, konsep kekeluargaan, memberi dan menerima pujian,
meminta maaf, keterusterangan, kritik dan sebagainya yang semuanya bisa dibahas
dengan cara menyisipkannya ke dalam catatan budaya dalam pelajaran bahasa.
Dalam konteks yang lebih luas yaitu konsep tentang HAM, agama, dosa dan pahala,
bahasa tubuh dsb. memerlukan pembahasan yang lebih luas dan dijelaskan
tersendiri (tidak bisa disisipkan dalam catatan budaya). Dalam hal ini komponen
yang akan diajarkan/dibahas dipilih sesuai kebutuhan pembelajar.
Isi:
Dalam belajar bahasa asing dikenal empat
macam kemahiran bahasa (four skills), yaitu kemahiran mendengar, membaca,
berbicara, dan menulis. Kemahiran mendengar dan membaca bersifat reseptif,
sedang kemahiran berbicara dan menulis bersifat produktif. Penguasaan bahasa
yang ideal mencakup keempat jenis kemahiran tersebut, walaupun kenyataannya ada
siswa yang cepat mahir berbicara tetapi lemah dalam menulis atau sebaliknya (Lado,
1985).
Terkait retensi atau kemampuan mengingat kembali unsur-unsur bahasa yang sudah dipelajari, kemahiran membaca mempunyai derajat yang paling rendah. Seperti dilaporkan oleh Dale (1969) pada umumnya pembelajar hanya 10% mengingat dari apa yang mereka baca, 20% dari apa yang mereka dengar, 30% dari apa yang mereka lihat, 50% dari apa yang mereka dengar dan lihat, 70% dari apa yang mereka katakan dan tulis, dan 90% dari apa yang mereka katakan seperti yang mereka lakukan. Mengingat rendahnya kemampuan mengingat dari apa yang mereka baca dan dengar dalam proses belajar bahasa asing, maka pelajaran membaca, mendengar, dan berbicara harus mendapat perhatian yang seksama.
Terkait retensi atau kemampuan mengingat kembali unsur-unsur bahasa yang sudah dipelajari, kemahiran membaca mempunyai derajat yang paling rendah. Seperti dilaporkan oleh Dale (1969) pada umumnya pembelajar hanya 10% mengingat dari apa yang mereka baca, 20% dari apa yang mereka dengar, 30% dari apa yang mereka lihat, 50% dari apa yang mereka dengar dan lihat, 70% dari apa yang mereka katakan dan tulis, dan 90% dari apa yang mereka katakan seperti yang mereka lakukan. Mengingat rendahnya kemampuan mengingat dari apa yang mereka baca dan dengar dalam proses belajar bahasa asing, maka pelajaran membaca, mendengar, dan berbicara harus mendapat perhatian yang seksama.
Salah satu masalah dalam belajar bahasa
asing adalah adanya kesenjangan antara bahasa pertama dan bahasa target yang
akan dipelajari.Hal ini sering terjadi karena kurangnya pengetahuan bahasa
target oleh pembelajar bahasa asing. Secara umum dapat dikatakan bahwa semakin
jauh kesenjangan itu, semakin sulit proses pembelajarannya; dan semakin dekat
kesenjangan itu, semakin mudah proses pembelajarannya. Hal ini sejalan dengan
apa yang dikatakan oleh Grabe (1986) bahwa problem belajar bahasa asing muncul
sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan linguistis dan sosiokultural dari
bahasa pertama dan bahasa target. Pembelajar harus menguasai kompetensi
gramatikal dan leksikal dari bahasa target jika ingin menguasai bahasa target
itu. Walaupun demikian bisa saja terjadi seorang pembelajar yang sudah memiliki
kompetensi secukupnya dalam bahasa target tetapi masih menghadapi kesulitan
memahami teks tertentu karena kurangnya pemahaman sosiokultur pemakai bahasa
target. Oleh karena itu pemahaman sosiokultur pemakai bahasa target sangat
dibutuhkan oleh pembelajar untuk melengkapi kompetensi gramatikal dan leksikal
mengenai bahasa target.
Perlunya penggunaan materi yang otentik
(authentic materials)
Pada situasi seperti tersebut diatas, penggunaan
pendekatan yang tepat dan pemilihan bahan ajar yang fungsional memiliki peranan
yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran bahasa
asing. Penggunaan pendekatan tertentu berkorelasi dengan jenis kemahiran yang
dipelajari, dan materi yang dipelajari. Oleh karena itu pemakaian materi
otentik akan sangat membantu pembelajar, terutama bagi mereka yang belum
mengenal bahasa target sama sekali. Pemakaian materi ajar yang otentik tentu
harus disertai dengan pendekatan komunikatif integratif karena hal ini juga
akan membangkitkan minat pembelajar dan memelihara keterlibatan pembelajar
terhadap subyek yang sedang dipelajarinya.
Pendekatan komunikatif integratif adalah
pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang menekankan aspek komunikatif dan
integratif. Komunikatif diartikan sebagai pendekatan yang mengutamakan
pembelajar dalam menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi secara aktif.
Hal in berarti bahwa fokus pembelajaran terletak pada penggunaan bahasa dalam
konteks kehidupan sehari-hari. Sedangkan yang dimaksud dengan integratif adalah
keterpaduan penggunaan empat kemahiran bahasa yaitu mendengar, membaca,
berbicara, dan menulis. Dalam pendekatan integratif, pembelajar juga dilibatkan
dalam aktivitas di kelas dan di luar kelas, baik dalam bentuk tugas terstruktur
maupun dalam bersosialisasi dengan masyarakat di sekitarnya.
Untuk menciptakan komunikasi yang baik
antara pembelajar dan pengajar, diperlukan materi pelajaran yang fungsional. Seperti
dijelaskan oleh Eskey (1986) para pembelajar yang termasuk lower-level cognitive skills memerlukan materi pelajaran yang
menekankan identifikasi bentuk; sedang para pembelajar yang termasuk higher-level cognitive skills memerlukan
materi pelajaran yang menekankan interpretasi makna. Bagi para pembelajar yang
termasuk lower-level cognitive skills yang
biasanya berada di kelas pemula, pemakaian materi otentik yang menekankan aspek
bentuk sangat penting untuk menjembatani kesenjangan komunikasi di antara
pembelajar dan pengajar. Dapat dibayangkan apa yang terjadi di dalam kelas jika
para pembelajar tidak mengerti satu kata pun dari bahasa yang dipelajarinya, sementara
itu pengajar harus menjelaskan materi pelajaran dengan memakai bahasa yang
sedang dipelajarinya. Dengan menggunakan materi otentik yang tepat para
pembelajar akan dapat mengikuti pelajaran dengan memanfaatkan pengetahuan
dasarnya untuk menebak materi pelajaran yang dipelajarinya.
Pengelompokan kelas berdasarkankan tingkatan
pembelajar
Pada
umumnya pembelajar bahasa asing dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan,
yaitu kelas pemula (elementary),
menengah (intermediate), dan atas (advanced). Masing-masing tingkatan masih
bisa dibagi dalam beberapa tingkat sesuai kemampuan pembelajar, misalnya
pra-pemula (pre-elementary) dan
pemula, kelas pra-menengah (pre-intermediate),
menengah, upper intermediate, dan
seterusnya.
Kelas pemula biasanya ditandai oleh
kemampuan berkomunikasi secara minimal tentang materi yang dipelajari,
sementara kelas menengah ditandai oleh kemampuan memakai materi pelajaran
dengan mengkombinasikan unsur-unsur yang dipelajari dan bertanya serta menjawab
pertanyaan. Sedangkan kelas atas ditandai oleh kemampuan berkomunikasi serta
menulis teks yang utuh. Pengelompokan ini sangat penting untuk melaksanakan
pendekatan komunikatif-integratif, karena kelas yang pesertanya memiliki
kemampuan setara , akan menciptakan interaksi yang baik antar pembelajar dan
pengajar. Apabila kemampuan pembelajar relatif berbeda, maka proses belajar-mengajar
dapat terganggu oleh pembelajar yang tidak dapat mengikuti pelajaran, atau
sebaliknya oleh pembelajar lain yang memiliki kemampuan lebih tinggi.
Dalam makalah ini penulis akan menyajikan contoh
pembelajaran BIPA bagi tingkat menengah (intermediate)
yang menuntut interpretasi makna kata-kata dan kalimat yang ada dalam teks, seperti
yang dikatakan oleh Eskey (1986). Pada tingkat ini dapat diasumsikan bahwa
pembelajar sudah menguasai sejumlah kata-kata bahasa Indonesia sehingga
kata-kata yang sudah dikuasainya tersebut dapat digunakan sebagai pengetahuan
awal untuk mengikuti pelajaran dalam meningkatkan kemampuan bahasa
Indonesianya. Pengajar BIPA dapat memperoleh materi otentik ini dari berbagai sumber tentang Indonesia melalui
surat kabar atau majalah yang dapat diakses secara cuma-cuma diberbagai homepage, seperti majalah Tempo,
surat kabar Republika dan Kompas. Bahan-bahan lainnya dapat
diperoleh melalui akses ke berbagai lembaga yang telah memunculkan informasi
dan produknya di jaringan internet. Semua sumber-sumber informasi yang dapat diakses
tersebut memberi peluang bagi pengajar yang kreatif untuk menciptakan cara baru
dalam menyajikan bahan pelajaran. Dari situ juga dapat dilakukan upaya
pemilihan bahan utama maupun bahan pelengkap untuk kegiatan belajar mengajar.
Bahkan dengan cara tersendiri, pengajar dapat mengambil bahan tertentu dan
mencetaknya sebagai bahan ajar yang dapat dimodifikasi sesuai kegiatan belajar-mengajarnya. Jenis bahan
ajar yang dipilih dapat berupa, iklan produk, editorila kartun, selebaran, berita
keluarga, pengumuman, karikatur, komik dan lain sebagainya.
Penggunaan materi otentik di dalam
kelas.
Berdasarkan asumsi bahwa retensi yang dihasilkan dari kegiatan membaca paling
rendah bila dibandingkan dengan kegiatan yang lain, maka pelajaran membaca
perlu mendapat perhatian khusus. Dengan menggunakan pendekatan komunikatif-integratif,
kegiatan pelajaran membaca tidak terbatas pada membaca saja, tetapi dapat juga
mencakup kagiatan mendengar, berbicara, dan menulis. Hal ini berarti beberapa
jenis kegiatan diintegrasikan dalam sebuah kegiatan, yaitu melalui pelajaran
membaca. Kegiatan mendengar ada dalam pelajaran membaca karena pembelajar harus
mendengarkan ucapan-ucapan pengajar dan pembelajar lain ketika
berinteraksi di dalam kelas, sedangkan kegiatan berbicara direalisasikan pada saat pembelajar mendiskusikan materi pelajaran, dan kegiatan menulis dilakukan pada saat pembelajar mengerjakan tugas-tugas menulis karangan atau laporan dari hasil diskusi kelompok.
berinteraksi di dalam kelas, sedangkan kegiatan berbicara direalisasikan pada saat pembelajar mendiskusikan materi pelajaran, dan kegiatan menulis dilakukan pada saat pembelajar mengerjakan tugas-tugas menulis karangan atau laporan dari hasil diskusi kelompok.
Pada dasarnya pelajaran membaca itu sendiri
dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu tahap prabacaan, bacaan, dan pascabacaan.
Setiap tahap harus dilakukan karena tahap yang satu menjadi prasyarat bagi
tahap lainnya, dan keberhasilan pelajaran membaca ditentukan oleh ketiga
tahapan itu.
Prabacaan (pre-reading)
Pada tahap prabacaan pengajar memperkenalkan
tipe teks yang akan dipelajari dan menyampaikan gambaran umum mengenai topik
yang akan dibahas. Tahap prabacaan berfungsi sebagai dasar dari keseluruhan pelajaran
membaca. Hal ini berarti bahwa pembelajar akan mengalami kesulitan mengikuti
pelajaran ini bila yang bersangkutan tidak dibekali informasi dan pikiran yang
tepat mengenai teks yang akan mereka baca. Untuk itu sebelum pelajaran membaca dimulai,
pengajar mulai menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan topik yang akan dibahas.
Dalam hubungan ini pengajar menanyakan informasi apa saja yang akan muncul
berkenaan dengan topik yang akan dipelajari dan dicacat pada papan tulis agar
dapat dilihat dan diingat oleh para pembelajar. Pada tahapan ini pengajar
memiliki peran yang sangat penting dalam memotivasi pembelajar agar mereka
terlibat secara aktif. Perlu diingat bahwa pada tahap prabacaan ini pengajar belum
membagikan teks yang akan dipelajari. Sebelum teks dibagi, pengajar
mendiskusikan topik yang akan dibahas di dalam teks. Diskusi ini dimaksudkan
untuk menggali informasi yang akan digunakan dalam memahami isi teks.
Contoh:
- Koran apa yang dibaca tiap hari?
-
Berita apa yang
pertama dicari?
-
Apakah suka membaca
rubrik editorial kartun?
-
Pesan apa yang
biasanya ingin disampaikan di dalamnya?
Kalau
pembelajar memberikan respon yang positif terhadap pertanyaan-pertanyaan
tersebut, pengajar dapat langsung membagikan contoh kartun dan bersiap-siap
untuk mendiskusikannya. Sebaliknya bila pembelajar memberikan respon yang
negatif, pengajar dapat menyiapkan pertanyaan-pertanyaan terstruktur untuk
memahami teks dalam kartun tersebut sebelum meminta pembelajar untuk
mendiskusikannya.
Bacaan (whilst-reading)
Kegiatanmembaca dimulai ketika pengajar sudah mendistribusikan
teks kepada para pembelajar. Para pembelajar diminta membaca dan memahami isi
teks. Kata-kata yang dianggap sulit (karena belum pernah dikenalnya) dicacat
dan ditanyakan kepada pengajar. Pengajar menjelaskan makna kata dan langsung
memberikan sinonimnya agar penguasaan kosakata pembelajar bertambah. Pada
bagian bacaan terdapat pertanyaan tentang teks atau memilih serta mengisi
bagian-bagian tertentu dari soal yang disajikan. Untuk mengerjakan bagian ini
para pembelajar dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 2 atau
3 orang. Dalam kelompok tersebut pembelajar berdiskusi dengan temannya mengenai
apa yang ditanyakan dalam teks. Setelah diskusi selesai pengajar mengecek
pemahaman pembelajar dengan bertanya kepada para pembelajar satu per satu mengenai
apa yang dikerjakan dan bagaimana hasilnya. Jika dalam materi pelajaran
terdapat bagian yang harus diperankan, maka para pembelajar diminta untuk bermain
peran (role play) mengenai hal tertentu, seperti wawancara antara wartawan dengan
seorang anggota DPR, atau percakapan antara pelayan toko dan pembeli.
Contoh: Pengajar menjelaskan
tentang arti kata sungkan dan budaya sungkan yang ada di lingkungan sekitar (di
Indonesia).

Pascabacaan (post-reading)
Pada bagian pascabacaan terdapat tugas
yang harus dikerjakan oleh para pembelajar setelah pelajaran selesai. Jadi para
pembelajar diberi pekerjaan rumah yang harus dikumpulkan pada hari berikutnya
ketika pelajaran yang sama berlangsung lagi. Pekerjaan rumah para pembelajar
dari tahapan pascabacaan ini harus diperiksa oleh pengajar hasilnya
dikembalikan kepada para pembelajar. Jika waktu tidak memungkinkan, bagian pascabacaan ini tidak perlu dibahas di
kelas, tetapi pengajar menyediakan waktu bagi para pembelajar jika ingin
menanyakan sesuatu terkait materi yang ada.
Contoh: -
Pembelajar diberi tugas untuk membaca kartun lain dari mas media yang
disukai
-
Pembelajar
diminta untuk menuliskan pemahamannya atas kartun terkait dalam sebuah paragraf
-
Pembelajar
mengumpulkan tugas tersebut pada pertemuan berikutnya.
Penutup:
Dari uraian di atas, jelaslah bahwa
pendekatan komunikatif integratif merupakan pilihan yang sesuai bila ingin
menggunakan materi otentik dalam pengembangan pembelajaran BIPA. Unsur budaya
dan bahasa adalah dua hal yang perlu diperkenalkan sedini mungkin kepada
pembelajar. Dengan menggunakan bahan ajar yang fungsional yaitu bahan ajar yang
bersumber dari materi otentik, pembelajar akan memperoleh kemudahan untuk menguasai bahasa yang sedang
dipelajarinya. Pembelajar dapat lebih memahami kebermaknaan materi yang
dipelajarinya karena mereka mengalaminya langsung dalam kehidupan mereka
sehari-hari.
Pengajar dituntut untuk lebih kreatif
dalam mengembangkan bahan ajarnya, lebih
terstruktur dalam mempersiapkan kegiatan
pembelajaran di kelas, lebih optimal dalam memotivasi pembelajar, dan lebih
memperhatikan setiap kesulitan maupun keberhasilan pembelajar. Hal ini mutlak
untuk dicermati oleh setiap pengajar agar dapat lebih meningkatkan keberhasilan
pengajaran BIPA di seluruh Indonesia.
Referensi
Dardjowidjojo, S. 1996. Metode dan keberhasilan
Pengajaran Bahasa. Makalah dalam Konferensi Internasioanl II Pengajaran Bahasa Indonesia bagi
Penutur Asing (KIPBIPA II). IKIP PADANG.
Dubin, F, and D.E
Eskey and W Grabe. 1986. Teaching Second
Language: Reading for Academic Purposes. Addison: Wesley Publishing Co.
Kartomihardjo, S.
1996. Bahan Pengajaran Bagi Pembelajar
Pemula Dan Teknik Penyampaiannya. Makalah dalam Konferensi Internasional II
Pengajaran Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (KIPBIPA II). IKIP Padang
Lapoliwa, H. 1996. BIPA dan Pembinaan Citra Bahasa Indonesia.
Makalah dalam Konferensi Internasioanl II Pengajaran Bahasa Indonesia bagi
Penutur Asing (KIPBIPA II). IKIP PADANG.
Lado, R. 1985.
Memory Span as a Factor in Second Language Learning, dalam IRAL 3:23-129.
Nunan, D. 1990. Designing Tasks for Communicative Classroom.
Cambridge: Cambridge University Press.
Riasa, N. 1996. Bahasa In Bali: Program Pengajaran Bahasa
Indonesia Yang Memadukan Komponen Linguistik Dan Budaya Bagi Penutur Asing. Makalah dalam Konferensi Internasioanl II
Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA II). IKIP PADANG.
Subyakto-Nababan. 1996. Pengajaran Bahasa Indonesia Kepada Penutur
Asing Menurut Pendekatan Komunikatif. Makalah dalam Konferensi
Internasioanl II Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (KIPBIPA II).
IKIP PADANG
Tidak ada komentar:
Posting Komentar