Dilema di Pertengahan Malam
Malam ini untuk kesekian kalinya aku terbangun dari sebuah mimpi
buruk yang hampir sama dengan malam-malam sebelumnya. Bagaikan sebuah
melodrama bersambung yang menunggu kepastian akhir cerita. Tentu saja
yang aku inginkan sebuah akhir yang melegakan kalbu. Tapi yang
terpenting dari itu semua, aku ingin terlepas dari belenggu bunga tidur
yang sangat meresahkan jiwaku. Aku ingin terbawa oleh kehangatan malam
yang nyaman. Sungguh tidak adil rasanya apabila kesempatan merebahkan
semua saraf-saraf kesadaran harus aku lepaskan begitu saja. Kala
sebagian besar yang bernapas merehatkan aktivitas dan terbuai oleh
alunan nyanyian malam, aku di sini hanya bisa menarik napas panjang
tanpa bisa memejamkan mataku kembali.
Bunga tidur itu sungguh berusaha menenggelamkan akal sehatku.
Hantu-hantu malam itu dengan kejamnya merenggut hakku untuk terbuai
dalam kenyenyakan. Aku tidak pernah lupa mengikrarkan berbagai doa dan
surat-surat suci sebelum aku tidur, bahkan aku berdzikir menjelang
lelap. Namun bunga tidur itu seraya menghantuiku tanpa ampun. Aku akan
memanjatkan syukurku kepada Allah apabila yang hadir dalam tidurku itu
ialah sesuatu yang indah dan membahagiakan. Tapi aku pun hanya bisa
berserah diri kepada-Nya apabila aku mendapatkan mimpi yang sama sekali
tidak aku harapkan.
Sama halnya dengan malam ini. Mimpi itu terulang kembali, mimpi
seseorang yang meminta belas kasihanku, namun aku di sana hanya bisa
diam dalam kebimbangan. Dan aku terjaga dan kembali ke dunia nyata
karenanya. Aku pun tidak dapat melanjutkan tidurku. Ku ambil kesempatan
ini untuk menjaga malam dalam sujud lail yang mungkin dengan kesibukanku
selama ini sulit sekali untuk mendapatkannya. Ku sadari di balik semua
kesusahan pasti ada pendar kekhusuan.
Beberapa kali aku membukakan mulutku dengan refleks karena rasa
kantuk yang menyerang. Hari ini adalah hari praktekku yang melelahkan.
Beberapa perawat yang biasanya membantuku tidak bisa hadir karena
berbagai kepentingan ataupun sakit ringan yang tak diundang. Otomatis
tugasku berlipat ganda adanya. Apalagi ditambah dengan wabah demam
berdarah yang sedang gencar-gencarnya menyerang penduduk di kota Bandung
ini. Belum lagi masalah kekurangan gizi yang semakin merajarela.
Bayi-bayi tak berdosa itu hanya bisa pasrah tergeletak menunggu untuk
diobati dan pemberian perbaikan gizi. Para orangtua hanya bisa
mengandalkan kepulihan anak-anak mereka di tangan hamba-hamba seperti
kami. Sedangkan semua kekuasaan yang sesungguhnya adalah berada di
tangan Yang Maha Kuasa. Kami hanya bisa berusaha.
Fiuuh, akhirnya untuk sementara tugasku agak berkurang. Hampir semua
pasien di bagian anak sudah kami tangani, setidaknya untuk saat ini. Aku
dan rekan kerjaku tinggal menyusun dan mengedit kembali hasil dari
pemeriksaan para pasien, setelah itu semua laporan itu aku serahkan pada
dokter yang sedang bertugas.
“Ya sudah, kalian boleh istirahat, tapi saya bisa memanggil kalian kapanpun, jadi cepat kembali.” kata dokter Hisyam tegas.
Aku dan rekan-rekan kerjaku akhirnya bisa merehatkan barang sejenak
otot-otot dan saraf-saraf lelah kami. Ku sapu peluh dengan dinginnya
air, tapi kantuk itu kembali menyerang. Tidak aku tidak boleh terlelap
di saat seperti ini, bukan saja karena ini adalah lingkungan kerjaku,
tapi juga aku tidak mau terlibat dengan bunga tidur yang kerap kali
mengganggu kesengganganku. Aku berusaha untuk tetap terjaga.
“Matamu kok sayu, kamu kurang istirahat?” kata Fitri di sebelahku yang sedang menikmati segarnya air mineral.
“Entahlah, belum lama ini tidur malamku tidak lengkap, aku pasti
terbangun di pertengahan malam, dan aku mengalami mimpi yang
berulang-ulang” jawabku seadanya. Temanku ini cukup mengenalku dengan
baik. Kami biasa membagi suka dan duka kami, setidaknya berguna untuk
mengusir kejenuhan selama bekerja.
“Sabarlah, semua itu pasti ada maksudnya, serahkan semuanya pada Allah,
sekarang jaga kesehatanmu. Makan makanan yang bergizi.” Katanya sembari
menyodorkan botol plastik yang berisi air mineral.
“Oh ya, bagaimana kabar Ibumu?” katanya menanyakan hal yang kerap kali menjadi topik pembicaraanku dengannya.
Wanita yang ku cintai itu sangat ku jaga perasaannya. Tubuh ringkih
serta ketidakberdayaannya memintaku untuk melindunginya dari mulut-mulut
pedas yang kerap kali menorehkan sebersit masa lalu yang legam. Ya masa
lalu yang sebenarnya tidak ingin aku dan Ibuku ungkit-ungkit kembali.
“Hai, ditanya kok malah melamun?” gelagapan aku dibuatnya. Aku ternyata terbuai oleh sosok lemah itu.
“Alhamdulillah, beliau sehat” jawabku. Fitri adalah satu-satunya teman
yang tahu akan masa lalu keluargaku. Tapi ada satu kepahitan di masa
lalu yang enggan aku ceritakan kepadanya, tidak belum saatnya.
Waktu senggang kami tiba-tiba terpotong oleh sebuah kenyataan bahwa
kami harus bertugas kembali. Dokter Hisyam rupanya memerlukan beberapa
perawat untuk membantunya menangani seorang pasien yang datang dengan
tiba-tiba. Ya, tentu saja semua pasien yang datang ke rumah sakit ini
datang tanpa merencanakannya terlebih dahulu, kecuali orang-orang
berduit yang datang hanya untuk sekedar melakukan medical check up.
“Kabarnya ada seorang Bapak yang terserang gejala stroke sewaktu sedang
menyeberang jalan. Ia hampir tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya”
Kata seorang perawat laki-laki pada kami. Kami pun bergegas.
Ku lihat beberapa orang tengah mengerumuni sebuah tempat tidur di
mana pasien yang baru tiba itu direbahkan. Sedangkan seorang Ibu dan
seorang laki-laki setengah baya tengah berkata-kata untuk memberikan
keterangan kepada seorang perawat. Beberapa saat kemudian orang-orang
tersebut satu demi satu meninggalkan ruangan gawat darurat yang dipenuhi
dengan peralatan medis itu. Dokter Hisyam dan beberapa perawat dengan
teliti memeriksa keadaan pasien tersebut. Aku dan Fitri pun membantu
mempersiapkan peralatan steril yang dibutuhkan.
Hingga saat aku mendekati pasien itu, sorotan sepasang mata sayu
memandangku dengan penuh kebisuan. Aku tertahan di antara kenyataan dan
angan-angan. Oh itukah dia? Degup jantungku serasa memicu darah untuk
bergerak lebih cepat. Darahku tersirap dibuatnya. Sebuah wajah yang tak
asing bagiku menumpulkan keinginanku untuk bergerak. Sebuah wajah yang
dahulu sering menyeringai ketenangan kaluargaku, khususnya Ibu! Tidak!
aku tidak bisa meneruskannya. Detik itu juga aku limbung. Tapi suara
hatiku yang lain berkata, “Jangan jangan sekarang.”
“Kerahkan semua tenagamu untuk bertahan. Demi kebaikanmu!” suara itu
seakan-akan bermaksud untuk membentengi kerapuhan jiwaku. Dengan sekuat
tenaga aku bertahan di sana.
Pembagian tugas sudah diputuskan. Mau tak mau aku harus bertugas
malam hari. Tapi untung bagiku ada Fitri yang juga bertugas malam.
Segelas kopi pahit sengaja aku buat agar aku tetap terjaga sepanjang
malam. Biarlah pagi yang akan menemaniku beristirahat setelah malam yang
melelahkan. Tapi ada satu yang menggangguku, kehadiran laki-laki itu.
Ku lihat sore tadi beberapa sanak keluarganya datang menjenguk. Seorang
wanita berumur empat puluhan dan seorang anak perempuan berumur belasan
tahun. Aku heran, setelah semua yang lelaki itu lakukan terhadap
keluargaku, ternyata masih ada yang sudi untuk mengasihinya.
Entahlah, kebencian itu kian hari kian bergemuruh di dalam dadaku.
Bagaikan amukan ombak yang siap menggempur pertahanan pantai yang
tenang. Apa yang telah ia perbuat sungguh membekas dalam goresan
kepahitan yang mendalam. Sebuah luka yang mengering kini terbuka
kembali. Aku berusaha untuk tidak memberitahu Ibu akan keberadaannya.
Namun entah dari mana asal keberanian itu muncul. Keberanian untuk
menceritakan segalanya kepada Ibu. Mungkin dorongan hatiku yang menuntut
keadilan. Mungkin sepenggal kata maaf? tapi rupanya pertahanan jiwa
Ibuku lebih kuat dari yang aku kira. Beliau hanya terpaku di peraduannya
memandang samar ke arahku tanpa berkata-kata. Tak ada air mata yang
mengalir sedikit pun. Sungguh kuatnya dirimu Ibu, di balik tubuhmu yang
renta dan ringkih.
Pepatah mengatakan masa lalu itu sudah tidak ada. Mengingat masa
lalu, mengenangnya kembali dan menghadirkannya dalam angan, dan merasa
sedih dengan semua hal miris yang telah dilalui adalah sebuah tindakan
bodoh. Kita tidak bisa mengembalikan bunga menjadi sebuah serbuk sari
kembali, atau mengembalikan bayi pada rahim Ibunya. Semuanya itu sungguh
menakutkan. Dan aku tidak mau terus-menerus berkubang dalam ketakutan.
Tapi aku hanya manusia biasa yang kadang menyerahkan diripada kebencian.
Betapa menggunungnya perasaan terlarang itu dalam lorong jiwaku.
Dia perumpamaan seorang kaisar bengis yang kini turun tahta. Dalam
kesunyian malam, dia berani memecahkan si raja malam dengan tangannya
yang dingin. Mengobrak-abrik pertahanan jiwa dua orang wanita ciptaan
Tuhan. Dua wanita yang seharusnya ia belai dalam taburan kasih sayang,
perlindungan dan kehangatan pelukan yang menenangkan. Tapi dia berbeda,
ia adalah api yang menyala dengan garang, mencoba untuk mengalahkan sang
angin yang tidak berdaya. Amukannya, amarahnya, siksaannya, kerap kali
menyentuh dua raga wanita yang diam-diam membendung kemarahan. Tangan
itu dengan suka cita membagi kebengisannya. Membuat kepedihan yang
mendalam dalam raga. Tapi kepedihan itu tidak sama besarnya dengan
seonggok kepedihan yang telah bersarang dalam hati. Ya, laki-laki itu
dengan berat hati harus aku sebut Ayah.
Kini semua telah hilang terbawa angin masa lalu. Luka itu memang
sudah terpendam. Lama setelah dia pergi meninggalkan aku dan Ibuku,
pergi tanpa ku harapkan agar dia kembali. Biarlah aku tumbuh tanpa
dekapan dan ciuman di kening seorang Ayah pada putrinya. Sepanjang Ibuku
tidak ia sakiti lagi. Wanita, judi, mabuk-mabukan, semua hal hina sudah
pernah ia jabani. Tapi sebuah rahasia kelam tengah menari-nari dengan
licik di benakku. Ayah patutkah aku memanggilmu dengan panggilan luhur
itu? Di mana perasaanmu saat kau renggut kesucianku? Di mana belas
kasihanmu saat nafsu menguasaimu dan melampiaskannya pada darah dagingmu
sendiri? Hai di manakah keadilan?!
Malam kelam, seperti biasa aku tidak bisa tidur. Mimpi itu kini sudah
jelas artinya. Seseorang yang meminta belas kasihanku itu adalah
seorang pria tua yang kini tak berdaya di hadapanku. Aku ingin
membelainya dengan kasih, namun kaki ini terasa berat untuk melangkah.
Aku hanya bisa terpaku di ambang pintu kamar dengan ditemani oleh
butiran-butiran hangat yang ke luar disela-sela mataku. Allah inikah
jawaban-Mu? Aku pun berlari meninggalkan fatamorgana itu. Tanpa ku
sadari sepasang mata tengah mengawasiku. Sepasang mata yang dipenuhi
dengan tanda tanya.
“Ayunda, tolong periksa keadaan pasien di kamar Gelatik, saya
memerlukan laporan perkembangannya sekarang” pinta dokter Hisyam sambil
menyerahkan papan kecil serta selembar kertas pemeriksaan.
“Kamar Gelatik? Bukankah itu kamar Ayahku?” sergap kata-kata dalam hatiku.
Sebuah dilema terombang-ambing dalam benakku. Haruskah aku pergi ke
sana? Kuatkah aku menatap matanya lagi? Tapi, rupanya kedua kakiku
berkata lain, aku melangkah ke arahnya, untuk menunaikan tugasku sebagai
seorang perawat. Aku harus profesional dalam hal ini. Itu tegasku.
Sepasang mata sayu itu terbangun dari tidurnya. Mungkin akibat dari
kehadiranku. Dengan tanggap aku memeriksa tekanan darah dan
perkembangan-perkembangan lainnya. Aku tidak mau melihat matanya. Aku
hanya ingin menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Tanpa diduga, sebuah
suara memecahkan kesunyian. Suara yang sejak lama tidak aku dengar.
Suara yang dulu lantang dan pongah. Sekarang hanya tinggal sebuah pita
suara tua yang berusaha untuk berkoar kembali.
“Ayunda, Ayah berdosa! Maafkan Ayah” suara parau seseorang yang tengah
terbaring tak berdaya. Nyaris tak terdengar olehku. Desiran angin di
balik jendela bahkan lebih gagah.
Sebuah kata-kata yang ingin aku dengarkan dahulu kala, saat kau masih
di sisi kami. Mengapa baru kau katakan sekarang? Mulutku diam seribu
bahasa. Kata-kata yang aku rangkai sedemikian rupa untuk aku tumpahkan
apabila aku bertemu denganmu kini pergi bersama angin. Hanya mataku yang
bicara. Dengan beban seribu sembilu di dada, aku pergi meninggalkannya
dalam kebisuan. Entahlah, apakah aku bisa memaafkannya?
“Kadang kekalutan hati harus dibagi kepada orang lain, Ayunda” ujar
suara milik dokter Hisyam tiba-tiba. Aku terperangah. Tidak menyadari
kalau air mataku ini telah disaksikan oleh seorang figur Ayah dalam
bungkus sebuah ikatan kerja. Dokter Hisyam, beliau adalah dosenku di
sekolah keperawatan. Sosoknya yang tegas dan bijaksana sangat aku
kagumi. Beliau adalah penawar obat rinduku untuk figur seorang Ayah.
“Air matamu itu tidak mungkin ke luar tanpa sebab, nona manis” kata-kata
rayuan yang manis. Aku tersenyum dibuatnya. Segera aku hapus sisa-sisa
tangisanku.
“Dia Ayahmu?” terkejut aku mendengar pertanyaan beliau kali ini. Darimana dia tahu?
“Maafkan saya jika terlalu lancang membuka rahasia pribadimu, tapi saya
tidak bisa membiarkan anak didik saya terlarut dalam kesedihan yang
berkepanjangan, itu bisa mengganggu kelancaran penyembuhan pasien” aku
hanya diam, beliau benar. Rupanya dia mengerti mengapa aku hanya terdiam
tanpa menjelaskan apa-apa kepadanya. Tapi akhirnya aku membuka suara
juga.
“Saya bingung dengan tindakan saya selanjutnya, Dok. Begitu banyak
luka yang ia torehkan pada saya” aku berkata seadanya. Ku lihat kerutan
jelas di dahi tuanya.
“Sejelek apapun Ayahmu, dia tetaplah Ayah bagimu. Orang yang telah menghadirkanmu ke dunia”
“Tapi, luka itu telah membekas dan akan tetap membekas selamanya, Dok” jawabku tanpa beban.
“Kau cukup dewasa untuk mengambil keputusan, Ayu. Pada dasarnya manusia
diciptakan dengan beribu ujian. Allah mengujimu kali ini dengan sebuah
kenyataan yang tidak menyenangkan. Semakin kuat iman seseorang, maka
semakin berat terpaan ujian.” Kami hanya terjaga dalam kebisuan. Kembali
air mataku meleleh.
“Maafkanlah Ayahmu itu. Bahkan Allah sangat pemurah untuk pintu
maaf-Nya. Biarkan dia mendengarkan kata-kata melegakan bagi jiwanya yang
mungkin tidak akan kamu temui lagi. Kata-kata penuh kasih dari
putrinya, mungkin bisa menjadi obat ketenangan jiwanya saat kelak dibawa
oleh kematian. Ayu, tenangkan jiwanya” kata-kata itu meluncur dengan
sendirinya dari mulut dokter Hisyam.
“Aku percaya, kau adalah anak yang berbudi luhur. Ikutilah kata hatimu”
sepenggal kalimat akhir yang menyapu kekalutan relung hatiku.
Sebuah derap langkah yang terkesan tergesa-gesa menghampiri kami. Dan
derap langkah itu ternyata adalah milik Fitri. Ia cukup kaget melihat
mataku dipenuhi dengan air mata. Sebuah tanda tanya besar mungkin
bergelantungan di benaknya. Tapi dengan cepat ia singkirkan tanda tanya
itu.
“Dok, pasien di kamar gelatik sepertinya” kata-kata itu tenggelam dalam
derap-derap langkah ketergesa-gesaan. Kami berlari menuju kamar itu.
Allah mungkinkah?
Ku lihat kamar itu dipenuhi beberapa orang yang tidak aku kenal.
Seorang wanita dan anak gadisnya tengah berurai air mata. Laki-laki itu
rupanya tengah bergulat dengan detik-detik kematian. Tapi lagi-lagi
sebuah suara parau ke luar dari mulut keringnya.
“Ayunda!”
Aku tak kuasa menumpahkan air mata kepedihan. Melihatnya meregang
nyawa sangat menyakitkanku. Aku berlari ke arahnya. Beberapa mata
memandangku dengan kebingungan yang mendalam.
“Ayah aku memaafkanmu!” ku peluk tubuhnya yang kurus itu dengan sepenuh kasih. Kucium keningnya dengan takzim.
Kau adalah Ayahku, darahmu mengalir dalam tubuhku, sampai kapan pun
aku akan tetap memanggilmu Ayah. Sisa nafasnya yang tersengal-sengal
memintaku untuk membisikan sebaris syahadat di telinganya. Dan nyawa itu
pun terbang untuk menemui-Nya.
Suara petir sayup-sayup mengiringi kepergiannya. Tangisan malam pun
pecah begitu saja. Begitu juga dengan tangisan sang langit yang
menginginkan percikan air matanya menyentuh bumi dan membelai
tanah-tanah yang diberkahi. Sekali lagi ku belai dan ku ciumi wajahnya
yang tenang.
Bandung, 010206
Cerpen Karangan: Thursina Shafa
Blog: coratcoretpunyaelin.blogspot.com