Kamis, 17 September 2015

Proses Morfofonemik

PROSES MORFOFONEMIK

PROSES MORFOFONEMIK

A. Pengertian morfofonemik
    Morfofonemik adalah cabang linguistik yang mempelajari perubahan bunyi diakibatkan adanya pengelompokkan morfem. Berikut pendapat dari beberpa para ahli mengenai morfofonemik;
a.    Nelson francis (1958) menyatakan bahwa morfofonemik mempelajari variasi-variasi yang tampak pada struktur fonemik alomorf-alomorf sebagai akibat pengelompokkan menjadi kata.
b.    Samsuri (1982:28) bahwa morfofonemik merupakan studi tentang perubahan-perubahan fonem yang disebabkan hubungan dua morfem atau lebih serta pemberian tanda-tandanya.
c.    Ramlan, morfofonemik sebagai perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain.

B. Proses morfofonemik

Morfofonemik bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi enam macam yaitu:
1.    Penghilangan bunyi
2.    Penambahan bunyi
3.    Perubahan bunyi
4.    Perubahan dan penambahan bunyi
5.    Perubahan dan penghilangan bunyi
6.    Pelomcatan bunyi

    Ada beberapa proses morfofonemik dilihat dari sifat pembentukannya. . Proses tersebut adalah proses yang secara otomatis dan proses yang tidak otomatis. Menurut Harimurti Kridalaksana, proses morfofonemik terjadi atas 10 yaitu:
1. Pemunculan fonem
2. Pengekalan fonem
3. Pemunculan dan pengekanan fonem
4. Pergeseran fonem
5. Perubahan dan pergeseran fonem
6. Pelepasan fonem
7. Peluluhan fonem
8. Penyisipan fonem secara historis
9. Pemunculan fonem berdasarkan poka asing
10. Variasi fonem bahasa sumber

Sedangkan Ramlan membagi proses morfofonemik menjadi tiga macam yaitu:
1.    Proses perubahan fonem

    Proses perubahan fonem, misalnya terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya.fonem /m/ pada kedua morfem tersebut berubah menjadi /m, n, ny, ng/ sehingga morfem meN-  berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng- sementara morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, peng-. Perubahan-perubahan tersebut tergantumg pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Kaidah-kaidah perubahannya dapat berikhtisar sebagai berikut:
a.    Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /p, b, f/.
Misalnya:    meN- + paksa: memaksa
        peN- + periksa: memeriksa
        meN- + batik: membatik
        peN- + buru: pemburu
        meN- + fitnah: memfitnah
        peN- + fitnah: pemfitnah

b.    Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t, d, s/. fonem /s/ di sini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya.
Misalnya:    meN- + tulis: menulis
        meN- + duga: menduga
        maN- + sukseskan: mensukseskan
        peN- + tulis: penulis
        peN- + datang: pendatang
        peN- + support: pensupport

c.    Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi // apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /s/ dalam penulisannya tidak dihadirkan, tetapi hanya hadir apabila diucapkan.
Misalnya:    maN- + sapu: menyapu
        peN- +  cukur: pencukur

d.    Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi /y/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x, h, dan vocal/.
Misalnya:    meN- + kacau: mengacau
        meN- + gertak: menggertak
        meN- + hisap: menhisap
        peN- + urus: pengurus

Pada kata mengebom, mengecat, mengelas, juga terdapat proses moefofonemik yang berupa perubahan, yaitu fonem /N/ menjadi /Y/.

2.    Proses penambahan fonem

    Proses penambahan fonem terjadi akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya yang terdiri dari satu suku. Fonem penambahnya adalah /?/, sehingga meN- berubah menjadi menge- dan peN- berubah menjadi penge-.
Misalnya:    meN- + bom: mengebom
        meN- + las: mengelas
        meN- + bur: mengebur
        peN- + bom: pengebom
        peN- + las: pengelas
        peN- + bur: pengebur



3.    Proses hilangnya fonem

    Proses hilangnya fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w, dan nasal/.
Misalnya:    meN- + lerai: melerai
        meN- + ramalkan: meramalkan
        meN- + yakinkan: meyakinkan
        meN- + wakili: mewakili
        meN- + nyanyi: menyanyi
        peN- + lerai: pelerai
        peN- + ramal: peramal
        peN- + warna: pewarna
        peN- + nyanyi: penyanyi

    Fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /r/.
Misalnya:    ber- + rapat: berapat
        ber- + kerja: bekerja
        ber- + serta: beserta
        per- + ragakan: peragakan
        ter- + rasa: terasa

    Fonem-fonem /p, t, s, k/ pada awal morfem hilang sebagai akibat pertemuan morfem men- dan pen- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem itu.
Misalnya:    meN- + paksa: memaksa
        meN- + tulis: menulis
        meN- + sapu: menyapu
        meN- + karang: mengarang
        peN- + paksa: pemaksa
        peN- + tulis: penulis
        peN- + sapu: penyapu
    Pada kata memperagakan dan mentertawakan fonem /p/ dan /t/ yang merupakan fonem awal bentuk dasar kata itu tidak hilang karena fonem-fonem itu merupakan fonem awal afiks, yaitu per- dan ter-. Demikian juga pada kata-kata menterjemahkan, mensupplay, mengkoordinir, penterjemah, pensurvey, fonem-fonem / t, s, k/ yang merupakan fonem awal bentuk dasar kata itu berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya.    

Selasa, 15 September 2015

10 menu makanan yang hanya ada di Indonesia

Berikut akan JadiBerita bahas 10 menu makanan yang hanya ada di Indonesia. Penasaran? Yuk langsung saja kita simak artikel berikut.

1. Bakso

Bakso
Bakso
Bakso adalah salah satu menu yang akan menggoyang lidah JBers ketika mencicipinya. Walaupun di negara-negara lain pun ada menu bakso yang terkenal dengan sebutan meatball, namun cara penyajiannya tentu saja berbeda-beda. Bakso yang hanya ada di Indonesia adalah bakso Malang dan bakso bakar. Siapa yang tidak kenal dengan bakso Malang? Bakso Malang ini disajikan dengan kuah kaldu panas, bisa disertai dengan mie atau bihun, pangsit, gorengan, dan sayur yang juga disediakan beragam, mulai dari kol, sawi, atau selada. Selain bakso Malang, bakso  bakar juga merupakan salah satu makanan khas kota Malang. Bakso bakar ini diolah dengan cara dibakar di atas arang dan disiram bumbu spesial. Hmmm, rasanya pasti sedap….

2. Soto

Soto
Soto
Soto adalah salah satu makanan khas Indonesia yang disajikan dengan kuah dan diisi dengan daging, sayuran dan berbagai macam bumbu. Uniknya, soto di Indonesia memiliki beragam jenis sesuai dengan daerahnya. Contohnya saja ada soto Kudus khas kota Kudus, soto Bandung, soto Betawi, soto Madura dan lainnya. Salah satu menu andalan adalah soto Betawi khas Jakarta. Soto Betawi sendiri tak seperti soto lainnya. Ia memiliki kuah kental berwarna putih kekuningan karena di dalamnya diwarnai dengan santan. Soal daging yang dipakai, soto betawi bisa disajikan dengan menggunakan daging sapi, kambing ataupun ayam. Soto Betawi ini pun akan diracik dengan daun bawang dan bawang goreng serta disajikan dengan kerupuk emping yang tak boleh dilewatkan. Hmmm, yummyyy…

 3. Rendang

Rendang
Rendang
Rendang merupakan menu berbahan dasar daging yang diolah dengan aneka rempah seperti ketumbar, kunyit dan aneka bumbu dapur lainnya. Rendang adalah menu khas Padang yang kaya rasa dan sangat legit. Rasanya memang cenderung asin, dengan kuah pekat yang menempel karena bumbu yang digunakan juga banyak. Biasanya dagingnya lembut dan meninggalkan rasa lezat di lidah saat disantap dengan nasi hangat.

4. Pempek

Pempek
Pempek
Pempek adalah menu khas dari Palembang. Pempek dibuat dari bahan dasar ikan yang diolah dengan tepung dengan aneka bentuk unik. Ada yang disebut kapal selam, lenjer, dan lainnya. Biasanya pempek ini akan disantap dengan kuah encer yang terbuat dari saus cuka dan gula. Selain itu, ada tambahan mie dan acar di dalamnya. Saat disantap, lidah JBers akan betul-betul dimanja karena ada rasa gurih, manis, asam dan asin sekaligus.

5. Gudeg

Gudeg
Gudeg
Salah satu menu khas Indonesia yang tidak boleh dilewatkan adalah gudeg khas Jogja. Menu gudeg ini merupakan perpaduan sayur nangka muda yang dimasak dengan santan dan gula merah. Gudeg disajikan juga dengan pelengkap berupa aneka lauk seperti ayam goreng, tempe goreng, telur rebus hingga kerupuk kulit sapi. Guged ini memiliki cita rasa khas Jogja, yaitu rasanya cenderung manis dan legit. Gudeg ini akan terasa lengkap bila disantap bersama nasi hangat. Pasti JBers ingin tambah lagi, lagi, dan lagi.

6. Gorengan

Gorengan
Gorengan
Kalau soal gorengan, hampir di seluruh wilayah di Indonesia punya gorengan khas sendiri. Ada gorengan berbahan tempe yang disebut mendoan atau tempe menjes khas Purwokerto. Lalu ada juga pisang molen khas Bandung, pisang goreng, ketela goreng, heci atau bakwan sayur, cireng dan lain sebagainya. Cara menikmati gorengan hangat ini pun beragam. Ada yang menggunakan sambal merah, ada pula yang menggunakan cabai hijau, cabai rawit/cengek atau sambal petis.

7. Opor Ayam

Opor Ayam
Opor Ayam
Opor ayam adalah menu yang berbahan dasar ayam, kentang, telur dan kuah bersantan. Opor biasanya disajikan dengan ketupat di bulan Ramadan. Kuahnya kental dengan taburan bawang merah goreng, dengan sentuhan rasa ketumbar, kunyit dan santan yang khas dan bikin kangen. Menu ini memang tiada duanya, dan akan bikin kangen JBers yang sedang merantau di negeri orang.

8. Rawon

Rawon
Rawon
Menu Rawon adalah salah satu menu khas Indonesia yang berasal dari Jawa Timur. Rawon mengandalkan 2 bahan utama, yaitu kluwek/keluwak/kluak dan daging sapi. Kluwek/keluwak/kluak tadilah yang akan mengakibatkan warna kuah rawon menjadi hitam pekat. Ditambah dengan bumbu lain yang cukup nendang seperti bawang merah, ketumbar, daun bawang, dan sereh, rawon akan terasa nikmat bila disantap bersama dengan nasi hangat.

9. Nasi Goreng

Nasi Goreng
Nasi Goreng
Menu yang satu ini mungkin ada di beberapa negara lain. Lantas apa specialnya? Bila nasi goreng adalah menu yang umumnya ada di restoran, di Indonesia nasi goreng ini juga menjadi salah satu menu penyelamat bagi anak kos-an nih. Tentunya JBers yang pernah merasakan mejadi anak kos-an akan teringat masa dimana ada abang-abang penjual nasi goreng menjajakan nasi gorengnya dengan membawa gerobak. Abang-abang tersebut akan membawa kentongan, ada yang memukul-mukul wajan, dan ada pula yang berteriak-teriak “nasi gorengggg….” Selain cerita di atas, bumbu nasi goreng yang ada di Indonesia pun mempunyai cita rasa yang khas, berbeda dengan negara lainnya.  Saya yang pernah menginjakkan kaki di negeri orang, tetap tidak dapat menemukan nasi goreng yang gurih ala abang-abang Indonesia.

10. Gado-gado

Gado-gado
Gado-gado
Gado-gado yang berisi campuran potongan sayuran seperti selada, wortel, kentang, jagung, bayam mentimun, tomat dan taoge ini disebut Javanese Salad (Salad Jawa) oleh orang luar negeri. Mungkin karena isinya yang terdiri dari berbagai macam sayuran. Selain sayuran, gado-gado juga bisa dicampur dengan potongan lontong, tempe dan tahu. Bila salad versi barat disertai dengan bumbu mayonaise, gado-gado khas Jakarta ini disiram dengan bumbu kacang dan disajikan dengan kerupuk. (bap)

Cerpen Cahaya Senja Sekejap Hilang


Pagi ini, burung-burung kecil nampak berkicau menyapaku. Aku mulai membuka mataku dan terbangun dari mimpi indahku semalam. Kubuka jendela imutku dan ku pandang langit yang seakan tersenyum menyambut hari ini.
“Kok hari ini sepi ya?” tanyaku dalam hati. Akuu berjalan melewati koridor sekolah menuju kelas.
“Neng, kok hari Minggu sekolah?” tanya penjaga sekolah yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. “Masya Allah. aku lupa” gumamku malu. Aku tersenyum dan berlari meninggalkan kelas dengan perasaan yang super duper malu banget.
“Anak zaman sekarang emang rajin banget toh, saking rajinnya sampai-sampai hari Minggu saja berangkat sekolah, apa ndak cape?” celoteh penjaga sekolah dengan logat jawanya.
Angin sore ini membelai tubuhku lembut. Daun nyiur pun melambai-lambai seakan menertawakanku. Ku ambil sebatang ranting pohon yang berada pada pijakanku, dan ku tuliskan “I MISS YOU” Lalu aku beranjak pulang karena matahari sudah tertidur lelap.
“Nina bangun! Sudah setengah 8 nak, emangnya kamu libur apa? Jam segini kok belum bangun?” seru mamah sambil mengetuk keras pintu kamarku.
Aku sesegera mungkin melompat dari tempat tidur ternyamanku dan ku ambil hp untuk membaca sms yang sudah bertengger di hpku. Aku berlari dan langsung duduk di meja makan dengan muka merah padam menahan malu, karena semua sudah ada di meja makan sebelum aku.
Ku petik setangkai bunga indah yang ku lihat di taman. Ku masih terus menunggu kedatangannya. Andre, dialah pacarku sekarang. Semenjak kejadian 2 minggu yang lalu itu, hubungan kami semakin renggang. Hanya masalah kecil saja amarahnya meluap-luap tak terhingga.
Tiga jam sudah aku menanti di sini namun dia tak kunjung datang. “Apa dia melupakan janji kita?” pikirku dangkal.
Aku beranjak pergi dari tempat yang ku pijak ini. Namun baru beberapa saat ku melangkah air mataku mengalir seketika melihat seseorang yang aku sayang terbujur lemah tak berdaya dikerumuni banyak orang dengan darah yang segar yang terus mengalir dari kepalanya. Ku peluk dia dan ku amati wajah manisnya yang terdiam 1000 bahasa. Dia yang ku tunggu sedari tadi, sekarang ada di pangkuanku dengan kondisi mengenaskan.
Langit pun meneteskan air matanya seakan tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku basah kuyup dan ku rasakan tubuhku lemah tak berdaya.
“Bangun Nina! Mana tugas yang Ibu berikan?” Aku terperanjat saat ku sadari ternyata semua itu hanya mimpi. Dan sekarang di hadapanku terlihat guru super killer mmelototiku.
“sebagai hukumannya, sekarang kamu berdiri di koridor sampai waktunya pulang!!”
Galak banget sih. Biasa aja kalee..” batinku.
Aku duduk di antara rumput-rumput ilalang dan burung yang bernyanyi merdu. Ku tuangkan seluruh keluh kesahku kala senja setelah aku selesai dari semua kegiatanku yang sangat melelahkan. Langkah kaki terdengar jelas menghampiriku. Aku menoleh ke belakang. Andre tersenyum dengan paras manisnya dan memberikan sebuah cokelat sebagai permohonan maafnya karena bertindak seperti anak kecil.
Hari ini aku merasa sangat lelah. Pulang les Piano, ku putuskan singgah sebentar di taman untuk memfoto beberapa jenis bunga yang indah. Kameraku terjatuh seketika dan mataku masih menatap fokus ke arah 2 orang yang ku kenal sedang bermesraan. Ini seperti mimpiku tadi malam. Aku memacu motor scoopy pemberian Ayahku dengan mata penuh air mata. Mataku tak jelas melihat sekitar dan cahaya senja perlahan memudar dan hilang.
“Kamu sudah sadar nak?” Terdengar sayu suara Ibuku.
“Aku kok di rumah sakit mah?”
“Iya nak, 2 hari yang lalu kamu kecelakaan dan koma” Ibuku menangis dan mengelus rambut tipisku.
Semenjak kecelakaan itu, aku harus merelakan 1 tanganku hilang. Aku terpuruk, tak berdaya dengan keadaanku sekarang ini. Ibuku terus memotivasiku agar aku tak patah semangat. Hingga pada suatu hari, ku lihat diaryku hampir penuh dan hanya tersisa 2 lembar terakhir.
Senja ini ku putuskan untuk menulis 2 lembar diaryku ini dengan keluh kesahku yang tak ingin ku curahkan pada orang lain. Setelah ku menulis sampai halaman terakhir, aku merasakan lelah luar biasa dan bersamaan dengan itu mataku terasa sangat berat. Aku perlahan tertidur lelap di bawah sinar senja untuk selamanya bersama dengan diaryku yang tergeletak di ribuan pasir yang ku pijak ini.
Cerpen Karangan: Fitri Nur Azizah
Facebook: fifie Little VirgHo
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Remaja Cerpen Sedih

Cerpen Penyesalan Selalu Datang Terlambat


Namaku Maya, aku memiliki seorang Adik bernama Mita. Mita merupakan anak yang menjadi kebanggaan keluargaku, dia pintar, cantik, dan ramah. Tapi aku, aku hanyalah orang yang tak bisa sama sekali dibanggakan, aku bodoh, dan aku jelek. Seringkali aku merasa tersingkir dengan adanya Mita. Setiap hari, akulah yang harus membereskan dan membersihkan rumah. Sedangkan Mita, dia bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Terkadang aku merasa iri dengan Mita, tapi mau diapakan lagi, kedua orangtuaku lebih menyayangi Mita. Seringkali aku merasa putus asa.
Sampai pada suatu hari, aku sudah sangat letih hidup di keluarga ini. Aku akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah dengan hanya membawa uang tabunganku. Keluargaku tak pernah mengkhawatirkanku, bahkan mencariku. Aku memilih sekolah sambil bekerja di kafe.
Telah 2 tahun ku lewati, sekarang aku telah kuliah dengan mengambil jurusan sastra. Sampai sekarang, orangtuaku juga tak pernah sama sekali mencariku. Rasanya aku ingin sekali kembali ke rumahku, aku sangat sangat merindukan orangtua dan Adikku. Aku tak ingin kembali ke rumahku, tapi aku tak bisa melawan kata hatiku.
Pada suatu hari, aku memutuskan untuk kembali ke rumah orangtuaku. Betapa kagetnya aku melihat rumahku sudah dijual. Setelah aku tanya ke tetangga, mereka berkata orangtua dan Adikku telah meninggal 2 tahun lalu akibat kecelakaan saat mencariku. Aku tak percaya bahwa keluargaku telah meninggal, aku bertanya pada tetangga itu di mana makam keluargaku, dia berkata bahwa mayatnya tak pernah ditemukan.
Aku tak bisa menahan air mataku, betapa menyesalnya aku pergi dari rumahku dulu. Aku sadar bahwa penyesalan selalu datang terlambat.
Cerpen Karangan: Fitria Idham
Facebook: Fitria Idham
My name is A. Fitria Idham. I come from makassar. I was born at 13th december 2001. Thank you for reading my story.

Cerpen Dilema di Pertengahan Malam

Dilema di Pertengahan Malam




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 6 September 2015

Malam ini untuk kesekian kalinya aku terbangun dari sebuah mimpi buruk yang hampir sama dengan malam-malam sebelumnya. Bagaikan sebuah melodrama bersambung yang menunggu kepastian akhir cerita. Tentu saja yang aku inginkan sebuah akhir yang melegakan kalbu. Tapi yang terpenting dari itu semua, aku ingin terlepas dari belenggu bunga tidur yang sangat meresahkan jiwaku. Aku ingin terbawa oleh kehangatan malam yang nyaman. Sungguh tidak adil rasanya apabila kesempatan merebahkan semua saraf-saraf kesadaran harus aku lepaskan begitu saja. Kala sebagian besar yang bernapas merehatkan aktivitas dan terbuai oleh alunan nyanyian malam, aku di sini hanya bisa menarik napas panjang tanpa bisa memejamkan mataku kembali.
Bunga tidur itu sungguh berusaha menenggelamkan akal sehatku. Hantu-hantu malam itu dengan kejamnya merenggut hakku untuk terbuai dalam kenyenyakan. Aku tidak pernah lupa mengikrarkan berbagai doa dan surat-surat suci sebelum aku tidur, bahkan aku berdzikir menjelang lelap. Namun bunga tidur itu seraya menghantuiku tanpa ampun. Aku akan memanjatkan syukurku kepada Allah apabila yang hadir dalam tidurku itu ialah sesuatu yang indah dan membahagiakan. Tapi aku pun hanya bisa berserah diri kepada-Nya apabila aku mendapatkan mimpi yang sama sekali tidak aku harapkan.
Sama halnya dengan malam ini. Mimpi itu terulang kembali, mimpi seseorang yang meminta belas kasihanku, namun aku di sana hanya bisa diam dalam kebimbangan. Dan aku terjaga dan kembali ke dunia nyata karenanya. Aku pun tidak dapat melanjutkan tidurku. Ku ambil kesempatan ini untuk menjaga malam dalam sujud lail yang mungkin dengan kesibukanku selama ini sulit sekali untuk mendapatkannya. Ku sadari di balik semua kesusahan pasti ada pendar kekhusuan.
Beberapa kali aku membukakan mulutku dengan refleks karena rasa kantuk yang menyerang. Hari ini adalah hari praktekku yang melelahkan. Beberapa perawat yang biasanya membantuku tidak bisa hadir karena berbagai kepentingan ataupun sakit ringan yang tak diundang. Otomatis tugasku berlipat ganda adanya. Apalagi ditambah dengan wabah demam berdarah yang sedang gencar-gencarnya menyerang penduduk di kota Bandung ini. Belum lagi masalah kekurangan gizi yang semakin merajarela. Bayi-bayi tak berdosa itu hanya bisa pasrah tergeletak menunggu untuk diobati dan pemberian perbaikan gizi. Para orangtua hanya bisa mengandalkan kepulihan anak-anak mereka di tangan hamba-hamba seperti kami. Sedangkan semua kekuasaan yang sesungguhnya adalah berada di tangan Yang Maha Kuasa. Kami hanya bisa berusaha.
Fiuuh, akhirnya untuk sementara tugasku agak berkurang. Hampir semua pasien di bagian anak sudah kami tangani, setidaknya untuk saat ini. Aku dan rekan kerjaku tinggal menyusun dan mengedit kembali hasil dari pemeriksaan para pasien, setelah itu semua laporan itu aku serahkan pada dokter yang sedang bertugas.
“Ya sudah, kalian boleh istirahat, tapi saya bisa memanggil kalian kapanpun, jadi cepat kembali.” kata dokter Hisyam tegas.
Aku dan rekan-rekan kerjaku akhirnya bisa merehatkan barang sejenak otot-otot dan saraf-saraf lelah kami. Ku sapu peluh dengan dinginnya air, tapi kantuk itu kembali menyerang. Tidak aku tidak boleh terlelap di saat seperti ini, bukan saja karena ini adalah lingkungan kerjaku, tapi juga aku tidak mau terlibat dengan bunga tidur yang kerap kali mengganggu kesengganganku. Aku berusaha untuk tetap terjaga.
“Matamu kok sayu, kamu kurang istirahat?” kata Fitri di sebelahku yang sedang menikmati segarnya air mineral.
“Entahlah, belum lama ini tidur malamku tidak lengkap, aku pasti terbangun di pertengahan malam, dan aku mengalami mimpi yang berulang-ulang” jawabku seadanya. Temanku ini cukup mengenalku dengan baik. Kami biasa membagi suka dan duka kami, setidaknya berguna untuk mengusir kejenuhan selama bekerja.
“Sabarlah, semua itu pasti ada maksudnya, serahkan semuanya pada Allah, sekarang jaga kesehatanmu. Makan makanan yang bergizi.” Katanya sembari menyodorkan botol plastik yang berisi air mineral.
“Oh ya, bagaimana kabar Ibumu?” katanya menanyakan hal yang kerap kali menjadi topik pembicaraanku dengannya.
Wanita yang ku cintai itu sangat ku jaga perasaannya. Tubuh ringkih serta ketidakberdayaannya memintaku untuk melindunginya dari mulut-mulut pedas yang kerap kali menorehkan sebersit masa lalu yang legam. Ya masa lalu yang sebenarnya tidak ingin aku dan Ibuku ungkit-ungkit kembali.
“Hai, ditanya kok malah melamun?” gelagapan aku dibuatnya. Aku ternyata terbuai oleh sosok lemah itu.
“Alhamdulillah, beliau sehat” jawabku. Fitri adalah satu-satunya teman yang tahu akan masa lalu keluargaku. Tapi ada satu kepahitan di masa lalu yang enggan aku ceritakan kepadanya, tidak belum saatnya.
Waktu senggang kami tiba-tiba terpotong oleh sebuah kenyataan bahwa kami harus bertugas kembali. Dokter Hisyam rupanya memerlukan beberapa perawat untuk membantunya menangani seorang pasien yang datang dengan tiba-tiba. Ya, tentu saja semua pasien yang datang ke rumah sakit ini datang tanpa merencanakannya terlebih dahulu, kecuali orang-orang berduit yang datang hanya untuk sekedar melakukan medical check up.
“Kabarnya ada seorang Bapak yang terserang gejala stroke sewaktu sedang menyeberang jalan. Ia hampir tidak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya” Kata seorang perawat laki-laki pada kami. Kami pun bergegas.
Ku lihat beberapa orang tengah mengerumuni sebuah tempat tidur di mana pasien yang baru tiba itu direbahkan. Sedangkan seorang Ibu dan seorang laki-laki setengah baya tengah berkata-kata untuk memberikan keterangan kepada seorang perawat. Beberapa saat kemudian orang-orang tersebut satu demi satu meninggalkan ruangan gawat darurat yang dipenuhi dengan peralatan medis itu. Dokter Hisyam dan beberapa perawat dengan teliti memeriksa keadaan pasien tersebut. Aku dan Fitri pun membantu mempersiapkan peralatan steril yang dibutuhkan.
Hingga saat aku mendekati pasien itu, sorotan sepasang mata sayu memandangku dengan penuh kebisuan. Aku tertahan di antara kenyataan dan angan-angan. Oh itukah dia? Degup jantungku serasa memicu darah untuk bergerak lebih cepat. Darahku tersirap dibuatnya. Sebuah wajah yang tak asing bagiku menumpulkan keinginanku untuk bergerak. Sebuah wajah yang dahulu sering menyeringai ketenangan kaluargaku, khususnya Ibu! Tidak! aku tidak bisa meneruskannya. Detik itu juga aku limbung. Tapi suara hatiku yang lain berkata, “Jangan jangan sekarang.”
“Kerahkan semua tenagamu untuk bertahan. Demi kebaikanmu!” suara itu seakan-akan bermaksud untuk membentengi kerapuhan jiwaku. Dengan sekuat tenaga aku bertahan di sana.
Pembagian tugas sudah diputuskan. Mau tak mau aku harus bertugas malam hari. Tapi untung bagiku ada Fitri yang juga bertugas malam. Segelas kopi pahit sengaja aku buat agar aku tetap terjaga sepanjang malam. Biarlah pagi yang akan menemaniku beristirahat setelah malam yang melelahkan. Tapi ada satu yang menggangguku, kehadiran laki-laki itu. Ku lihat sore tadi beberapa sanak keluarganya datang menjenguk. Seorang wanita berumur empat puluhan dan seorang anak perempuan berumur belasan tahun. Aku heran, setelah semua yang lelaki itu lakukan terhadap keluargaku, ternyata masih ada yang sudi untuk mengasihinya.
Entahlah, kebencian itu kian hari kian bergemuruh di dalam dadaku. Bagaikan amukan ombak yang siap menggempur pertahanan pantai yang tenang. Apa yang telah ia perbuat sungguh membekas dalam goresan kepahitan yang mendalam. Sebuah luka yang mengering kini terbuka kembali. Aku berusaha untuk tidak memberitahu Ibu akan keberadaannya. Namun entah dari mana asal keberanian itu muncul. Keberanian untuk menceritakan segalanya kepada Ibu. Mungkin dorongan hatiku yang menuntut keadilan. Mungkin sepenggal kata maaf? tapi rupanya pertahanan jiwa Ibuku lebih kuat dari yang aku kira. Beliau hanya terpaku di peraduannya memandang samar ke arahku tanpa berkata-kata. Tak ada air mata yang mengalir sedikit pun. Sungguh kuatnya dirimu Ibu, di balik tubuhmu yang renta dan ringkih.
Pepatah mengatakan masa lalu itu sudah tidak ada. Mengingat masa lalu, mengenangnya kembali dan menghadirkannya dalam angan, dan merasa sedih dengan semua hal miris yang telah dilalui adalah sebuah tindakan bodoh. Kita tidak bisa mengembalikan bunga menjadi sebuah serbuk sari kembali, atau mengembalikan bayi pada rahim Ibunya. Semuanya itu sungguh menakutkan. Dan aku tidak mau terus-menerus berkubang dalam ketakutan. Tapi aku hanya manusia biasa yang kadang menyerahkan diripada kebencian. Betapa menggunungnya perasaan terlarang itu dalam lorong jiwaku.
Dia perumpamaan seorang kaisar bengis yang kini turun tahta. Dalam kesunyian malam, dia berani memecahkan si raja malam dengan tangannya yang dingin. Mengobrak-abrik pertahanan jiwa dua orang wanita ciptaan Tuhan. Dua wanita yang seharusnya ia belai dalam taburan kasih sayang, perlindungan dan kehangatan pelukan yang menenangkan. Tapi dia berbeda, ia adalah api yang menyala dengan garang, mencoba untuk mengalahkan sang angin yang tidak berdaya. Amukannya, amarahnya, siksaannya, kerap kali menyentuh dua raga wanita yang diam-diam membendung kemarahan. Tangan itu dengan suka cita membagi kebengisannya. Membuat kepedihan yang mendalam dalam raga. Tapi kepedihan itu tidak sama besarnya dengan seonggok kepedihan yang telah bersarang dalam hati. Ya, laki-laki itu dengan berat hati harus aku sebut Ayah.
Kini semua telah hilang terbawa angin masa lalu. Luka itu memang sudah terpendam. Lama setelah dia pergi meninggalkan aku dan Ibuku, pergi tanpa ku harapkan agar dia kembali. Biarlah aku tumbuh tanpa dekapan dan ciuman di kening seorang Ayah pada putrinya. Sepanjang Ibuku tidak ia sakiti lagi. Wanita, judi, mabuk-mabukan, semua hal hina sudah pernah ia jabani. Tapi sebuah rahasia kelam tengah menari-nari dengan licik di benakku. Ayah patutkah aku memanggilmu dengan panggilan luhur itu? Di mana perasaanmu saat kau renggut kesucianku? Di mana belas kasihanmu saat nafsu menguasaimu dan melampiaskannya pada darah dagingmu sendiri? Hai di manakah keadilan?!
Malam kelam, seperti biasa aku tidak bisa tidur. Mimpi itu kini sudah jelas artinya. Seseorang yang meminta belas kasihanku itu adalah seorang pria tua yang kini tak berdaya di hadapanku. Aku ingin membelainya dengan kasih, namun kaki ini terasa berat untuk melangkah. Aku hanya bisa terpaku di ambang pintu kamar dengan ditemani oleh butiran-butiran hangat yang ke luar disela-sela mataku. Allah inikah jawaban-Mu? Aku pun berlari meninggalkan fatamorgana itu. Tanpa ku sadari sepasang mata tengah mengawasiku. Sepasang mata yang dipenuhi dengan tanda tanya.
“Ayunda, tolong periksa keadaan pasien di kamar Gelatik, saya memerlukan laporan perkembangannya sekarang” pinta dokter Hisyam sambil menyerahkan papan kecil serta selembar kertas pemeriksaan.
“Kamar Gelatik? Bukankah itu kamar Ayahku?” sergap kata-kata dalam hatiku.
Sebuah dilema terombang-ambing dalam benakku. Haruskah aku pergi ke sana? Kuatkah aku menatap matanya lagi? Tapi, rupanya kedua kakiku berkata lain, aku melangkah ke arahnya, untuk menunaikan tugasku sebagai seorang perawat. Aku harus profesional dalam hal ini. Itu tegasku.
Sepasang mata sayu itu terbangun dari tidurnya. Mungkin akibat dari kehadiranku. Dengan tanggap aku memeriksa tekanan darah dan perkembangan-perkembangan lainnya. Aku tidak mau melihat matanya. Aku hanya ingin menjalankan tugasku sebaik-baiknya. Tanpa diduga, sebuah suara memecahkan kesunyian. Suara yang sejak lama tidak aku dengar. Suara yang dulu lantang dan pongah. Sekarang hanya tinggal sebuah pita suara tua yang berusaha untuk berkoar kembali.
“Ayunda, Ayah berdosa! Maafkan Ayah” suara parau seseorang yang tengah terbaring tak berdaya. Nyaris tak terdengar olehku. Desiran angin di balik jendela bahkan lebih gagah.
Sebuah kata-kata yang ingin aku dengarkan dahulu kala, saat kau masih di sisi kami. Mengapa baru kau katakan sekarang? Mulutku diam seribu bahasa. Kata-kata yang aku rangkai sedemikian rupa untuk aku tumpahkan apabila aku bertemu denganmu kini pergi bersama angin. Hanya mataku yang bicara. Dengan beban seribu sembilu di dada, aku pergi meninggalkannya dalam kebisuan. Entahlah, apakah aku bisa memaafkannya?
“Kadang kekalutan hati harus dibagi kepada orang lain, Ayunda” ujar suara milik dokter Hisyam tiba-tiba. Aku terperangah. Tidak menyadari kalau air mataku ini telah disaksikan oleh seorang figur Ayah dalam bungkus sebuah ikatan kerja. Dokter Hisyam, beliau adalah dosenku di sekolah keperawatan. Sosoknya yang tegas dan bijaksana sangat aku kagumi. Beliau adalah penawar obat rinduku untuk figur seorang Ayah.
“Air matamu itu tidak mungkin ke luar tanpa sebab, nona manis” kata-kata rayuan yang manis. Aku tersenyum dibuatnya. Segera aku hapus sisa-sisa tangisanku.
“Dia Ayahmu?” terkejut aku mendengar pertanyaan beliau kali ini. Darimana dia tahu?
“Maafkan saya jika terlalu lancang membuka rahasia pribadimu, tapi saya tidak bisa membiarkan anak didik saya terlarut dalam kesedihan yang berkepanjangan, itu bisa mengganggu kelancaran penyembuhan pasien” aku hanya diam, beliau benar. Rupanya dia mengerti mengapa aku hanya terdiam tanpa menjelaskan apa-apa kepadanya. Tapi akhirnya aku membuka suara juga.
“Saya bingung dengan tindakan saya selanjutnya, Dok. Begitu banyak luka yang ia torehkan pada saya” aku berkata seadanya. Ku lihat kerutan jelas di dahi tuanya.
“Sejelek apapun Ayahmu, dia tetaplah Ayah bagimu. Orang yang telah menghadirkanmu ke dunia”
“Tapi, luka itu telah membekas dan akan tetap membekas selamanya, Dok” jawabku tanpa beban.
“Kau cukup dewasa untuk mengambil keputusan, Ayu. Pada dasarnya manusia diciptakan dengan beribu ujian. Allah mengujimu kali ini dengan sebuah kenyataan yang tidak menyenangkan. Semakin kuat iman seseorang, maka semakin berat terpaan ujian.” Kami hanya terjaga dalam kebisuan. Kembali air mataku meleleh.
“Maafkanlah Ayahmu itu. Bahkan Allah sangat pemurah untuk pintu maaf-Nya. Biarkan dia mendengarkan kata-kata melegakan bagi jiwanya yang mungkin tidak akan kamu temui lagi. Kata-kata penuh kasih dari putrinya, mungkin bisa menjadi obat ketenangan jiwanya saat kelak dibawa oleh kematian. Ayu, tenangkan jiwanya” kata-kata itu meluncur dengan sendirinya dari mulut dokter Hisyam.
“Aku percaya, kau adalah anak yang berbudi luhur. Ikutilah kata hatimu” sepenggal kalimat akhir yang menyapu kekalutan relung hatiku.
Sebuah derap langkah yang terkesan tergesa-gesa menghampiri kami. Dan derap langkah itu ternyata adalah milik Fitri. Ia cukup kaget melihat mataku dipenuhi dengan air mata. Sebuah tanda tanya besar mungkin bergelantungan di benaknya. Tapi dengan cepat ia singkirkan tanda tanya itu.
“Dok, pasien di kamar gelatik sepertinya” kata-kata itu tenggelam dalam derap-derap langkah ketergesa-gesaan. Kami berlari menuju kamar itu. Allah mungkinkah?
Ku lihat kamar itu dipenuhi beberapa orang yang tidak aku kenal. Seorang wanita dan anak gadisnya tengah berurai air mata. Laki-laki itu rupanya tengah bergulat dengan detik-detik kematian. Tapi lagi-lagi sebuah suara parau ke luar dari mulut keringnya.
“Ayunda!”
Aku tak kuasa menumpahkan air mata kepedihan. Melihatnya meregang nyawa sangat menyakitkanku. Aku berlari ke arahnya. Beberapa mata memandangku dengan kebingungan yang mendalam.
“Ayah aku memaafkanmu!” ku peluk tubuhnya yang kurus itu dengan sepenuh kasih. Kucium keningnya dengan takzim.
Kau adalah Ayahku, darahmu mengalir dalam tubuhku, sampai kapan pun aku akan tetap memanggilmu Ayah. Sisa nafasnya yang tersengal-sengal memintaku untuk membisikan sebaris syahadat di telinganya. Dan nyawa itu pun terbang untuk menemui-Nya.
Suara petir sayup-sayup mengiringi kepergiannya. Tangisan malam pun pecah begitu saja. Begitu juga dengan tangisan sang langit yang menginginkan percikan air matanya menyentuh bumi dan membelai tanah-tanah yang diberkahi. Sekali lagi ku belai dan ku ciumi wajahnya yang tenang.
Bandung, 010206
Cerpen Karangan: Thursina Shafa
Blog: coratcoretpunyaelin.blogspot.com

Cerpen By Bus

By Bus




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 22 August 2015

Ini semua dimulai pada minggu pagi yang cerah.
Candaan dan tawa menggema menjadi satu dalam benda berbentuk balok ini, tak ketinggalan sedikit perdebatan terselip di antaranya. Yang lain duduk berpasangan, sementara aku sendiri. Tapi, aku tidak merasa kesepian karena mereka berada di sekelilingku. Benda beroda besar yang memuat manusia di dalamnya ini mulai berjalan perlahan. Hal baru muncul, membuatku tak sabar karena temanku untuk kedua kalinya memberi komando kepada pak supir untuk berhenti karena masih ada teman kami yang belum tiba.
Ayolah kawan, aku hanya bisa merutuki mereka dalam hati, karena belum berani untuk ikut berdebat.
Benda pipih yang sedari tadi kupegang berbunyi tak nyaring, aku yang menyadarinya langsung membuka pesan singkat dari temanku yang menunggu di tempat yang berbeda. Sementara aku membaca pesan singkat dari Danang, dua teman yang duduk di depanku sedang sibuk menelepon teman kami yang berada di bus lain.
Ah, ya, tentu dua temanku itu sedang meminta teman laki-laki kami untuk pindah ke bus kami. Dari pembicaraan mereka aku tahu kalau teman laki-laki kami itu tidak mau, dan ia ingin kami saja yang pindah ke sana. Oh, menyebalkan sekali. Sekarang bagiku waktu seperti kabel olor yang singkat, sebentar lagi pukul tujuh dan bila kami sampai tujuan melebihi waktu yang ditentukan itu namanya terlambat.
Setelah membalas pesan singkat Danang yang sedang menunggu di tempat lain, akhirnya kuputuskan untuk ikut ambil suara dalam perdebatan di bus umum ini. Lagi pula dua teman di depanku juga telah usai berdebat lewat sambungan tanpa kabel itu.
“Sudah, ditinggal saja! Dia kan juga sudah berangkat bersama teman yang lain,” suara itu bagaikan dukungan untukku. Karena kami memiliki pendapat yang sama. Dan ia adalah Hayyu, aku yakin pendapatnya pasti sangat berpengaruh sekarang.
“Iya, berangkat sekarang saja. Keburu telat nanti,” sahutku secepat kilat.
“Ya sudah, berangkat sekarang saja,” akhirnya dua teman yang berada di depanku itu menyetujui.
Beberapa menit kemudian bus berangkat, dalam perjalanan kami ditarik biaya setengah dari Rp. 6.000,00. Menurutku itu harga yang sepadan. Bila diingat-ingat sudah berapa tahun ya aku tidak naik bus umum? Terakhir aku naik bus umum saat aku kelas empat SD, sekarang aku sudah kelas sembilan SMP. Lima tahun, lama juga rupanya.
Berhenti dengan mengingat masa kecil, sekarang aku harus menghubungi temanku yang menunggu di gang yang berukuran seperti lubang gajah itu. Teman-temanku yang lain sesekali bertanya kepadaku tentang teman kami yang menanti bus kami. Lama sekali ia membalas pesan singkatku, kuputuskan untuk meneleponnya. Masa bodoh dengan pulsa yang ada, yang terpenting aku dapat menghubunginya sesegera mungkin. Bunyi sambungan telepon terdengar semu di telingaku karena gemuruh mesin bus. Sambungan itu berakhir dengan bunyi seperti kentut, itu berarti ia tidak mengangkat panggilanku.
“Danang tadi nunggu di situ sama Dimas dan Fero. Sekarang sudah nggak ada,” suara itu keluar dari mulut teman yang duduk di bangku sampingku, ia menunjuk tempat duduk di depan toko yang masih tutup. Aku kira Danang menunggu di gang lubang gajah.
“Aku telepon nggak diangkat,” aku menatap temanku yang tadi menunjuk tempat Danang menunggu. Almy.
“Mungkin sudah berangkat bersama Dimas dan Fero,” Lia angkat suara.
Baik, mungkin Danang memang sudah berangkat. Sepanjang jalan aku terus melihat kanan dan kiri, berjaga-jaga bila nanti ada Danang yang berjalan. Ya, ia tadi memberi tahuku kalau ia akan menunggu sambil berjalan.
Kondektur bus menyalakan musik. Musik yang konyol menurutku. Terlalu tidak enak didengar. Jam dinding yang menggantung di depan itu bergoyang-goyang menjadi pusat perhatianku. Aku merasa jam dinding itu menghantuiku, menertawaiku, dan mengejekku, karena waktu sudah hampir pukul tujuh. Sial sekali, bus ini berjalan pelan sekali. Mungkin bus ini berjalan 30 Km/jam. Rasanya aku ingin sekali memegang roda kendalinya saja. Tapi, perlu berpikir dua kali, aku yakin bila aku yang ambil alih, bus ini tidak akan sampai tujuan dengan selamat.
Benda pipih yang berada di atas dengkulku kembali berdering tak nyaring. Dengan cepat aku membuka pesan singkat yang tertera di layar handphone. Ah, Danang. Ia memberitahuku tentang ruang yang akan aku dan teman-teman tempati. Kalau begitu bertanda ia sudah sampai di sana. Bagus, aku tidak perlu menengok ke kanan dan kiri.
Menunggu dan sabar hanya itu yang aku dan teman-teman lakukan. Untuk mengisi kekosongan kami mengobrol tentang jalan menuju tempat yang kami tuju. Aku sampai lupa belum bercerita ke mana kami akan pergi di hari minggu pagi-pagi begini. Kami akan menuju SMK PGRI 3 Walikukun, mencoba memperbanyak ilmu tidak salah bukan? Kami mengikuti tryout uji coba di sana. Lumayan, gratis makanan ringan juga.
Akhirnya kami turun dari bus, lalu menyeberang jalan untuk menuju gang sekecil lubang semut untuk masuk ke dalam sekolah itu. Aku bersyukur karena tidak terlambat. Sekolah itu kecil, tidak seluas sekolahku. Ruang bagian dalam memang lebih bagus, tapi letaknya tidak tertata dengan strategis.
Baik sekarang adalah waktunya untuk berpikir. Mengerjakan 100 soal dalam waktu dua jam. Untung saja aku bisa berpikir lebih cepat dari biasanya. Walaupun ada beberapa nomor yang kujawab asal. Itu adalah teknik jitu yang aku yakin bahwa setiap pelajar mempunyainya. Waktu bergulir layaknya onde-onde yang jatuh dari langit. Selesai sudah tryout. Oh, otakku terasa panas.
Namun, setelah mengerjakan masih ada doorprize. Lumayan menarik, dua buah handphone. Ah, namun aku tidak tertarik. Lama sekali menunggu pembagian doorprize selesai. Beberapa peserta mengeluh untuk pulang, akhirnya yang ingin pulang dibolehkan pulang, sementara yang masih mau menunggu tetap tinggal di tempat.
Alas kaki kami terus bergesekan dengan aspal yang panas. Peluh berderai dari pelipis, sengatan matahari menerpa dengan ganas. Aku dan teman-temanku terus berjalan sambil menunggu bus lewat. Bus memang benda tanpa perasaan, kami berjalan sambil menlihat ke belakang, berjaga-jaga bila ada bus lewat. Sayang sekali tidak ada. Karena kami sudah dekat dengan pasar tempat singgah benda balok besar itu, kami memutuskan berjalan walaupun ada bus lewat. Berhentilah kami pada sebuah toko buah.
Ya, beberapa temanku ingin membeli buah nanas untuk ujian praktik bahasa inggris. Usai membeli nanas, kami berjalan lagi menuju tempat persinggahan bus. Oh, ada satu bus yang sedang menanti penupang rupanya. Kami berjalan sedikit pelan karena sudah lelah. Masih jauh dengan bus, bus itu malah sudah berjalan. Kami memutuskan untuk menunggu bus yang lain.
Aku masih berdiri sambil melihat ke arah jalan raya, perhatianku terarah pada kendaraan-kendaraan yang sedang berhenti di depan pembatas rel kereta api. Hei, tunggu! Busnya juga berhenti.
“Eh, ada kereta. Busnya juga berhenti!” Teriakku pada teman-teman sambil menunjuk ke arah plang pembatas rel kereta api.
“Ayo kejar!” Dhila memandangku sejenak.
Baiklah kakiku terasa seperti kapas sekarang, ringan. Akan sangat sia-sia bila tidak digunakan. Aku berlari dengan cepat, entah dapat tenaga dari mana. Dhila masih berlari di depanku. Pandanganku tertuju pada tas punggung yang ia kenakan. Berlari dan terus berlari. Hampir menabrak sepeda motor parkir dan menabrak orang. Masa bodoh dengan umpatan orang yang kutabrak. Aku melambai-lambaikan tangan, mungkin kondektur bus melihatnya.
“Pak, berhenti, pak!” Teriakku dan Dhila bersamaan.
Ya, mungkin ini konyol. Tapi, ini adalah hal yang baik untuk sekarang menurutku. Walau harus ditatap oleh berpasang-pasang mata dengan tatapan yang aneh.
Percuma, bus itu telah berjalan seiring dengan naiknya pembatas rel kereta api. Aku dan Dhila tidak berhasil. Kulihat ke belakang, teman-temanku berusaha menyusul kami. Sekarang aku ngos-ngosan. Napas memburu, kaki terasa mau copot, punggung terasa panas karena keringat yang menguap-uap, semua itu berbaur menjadi satu dalam diri kami masing-masing.
Menanti bus sambil beristirahat adalah hal satu-satunya yang baik sekarang. Teman-temanku yang lain duduk di bawah sebuah gubuk kecil, sementara aku dan Dhila masih berdiri di tepi jalan untuk menanti bus. Tak lama dari penantian kami sebuah bus berhenti di tempat bus yang tadi kami kejar.
“Ah, kalau bertemu lagi sama supir bus tadi, aku gorok dia,” Dhila tampaknya sebal dengan supir bus tadi.
“Haha, kalau aku mah akan kupenggal, keke,” candaku sambil tertawa.
“Haha, eh, itu busnya jalan,” ia menunjuk bus yang jalan seperti keong.
“Woi, bus. Ayo!” Kodeku pada teman-temanku yang duduk tak jauh dari kami.
Kami pulang menumpangi bus umum lagi. Tak sampai di sini saja, nanti setelah sampai di Ngrambe kami juga akan mampir ke warung Mie Ayam dan Bakso Cilacap. Tempat itu adalah milik orangtua temanku. Tentu setelah berpikir dan berlari-lari membuat kami lapar.
Yah, ini adalah pengalaman yang sangat seru dan melelahkan. Sampai jumpa lagi di pengalamanku yang lain.
Cerpen Karangan: Endah Nisrinasari
Facebook: Endah Merahputih Slaludihati
Nama saya Endah Nisrinasari, masih kelas IX SMP. Terima kasih bagi yang sudah membaca. Kalau sempat comment juga, ya!
Saya dapat dihubungi di:
Fb: Endah Merahputih Slaludihati
Twt: @Endah_07

Cerpen Roda Kehidupan


Roda Kehidupan




Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 4 September 2015

“Ibu, ini hasil ujianku. Jelek ya? Maafin aku ya Bu, gak bikin bahagia hari ini” kata Rangga sedih.
“Nak, kamu sudah berusaha. Jalan hidup tidak selalu lurus, ada kalanya kita berada di atas, ada juga kalanya kita di bawah. Berusahalah untuk bertahan dan terus meningkat. Ibu bahagia kok asal kamu tidak menyerah untuk berusaha” Jawab Ibu dengan bijak.
Rangga, Ia adalah seorang anak kuli bangunan dan tukang cuci baju di kampungnya. Anak yang penuh kesederhanaan ini tak pernah malu sekalipun menginjakkan kakinya di sekolah SMA yang notabene adalah sekolah favorit di kotanya.
“Rangga, selamat ya nak kamu dapat peringkat kesatu lagi. Pertahankan!” ujar Bu Tri, wali kelasnya tersenyum bangga.
“Yang bener bu? Alhamdulillah, pasti Bu terima kasih sudah membantu ya Bu” jawab Rangga selalu sopan.
Rangga hanya siswa yang bergantung pada beasiswa. Ia mampu ada di sekolah itu karena nilainya yang tak pernah sanggup dikalahkan oleh temannya. Baginya, keterbatasan ekonomi bukanlah alasan utama untuk tidak sekolah, dan berhenti berkarya. Ia mendapatkan beasiswa selama 3 tahun di bangku SMA karena nilainya yang selalu ada dalam 5 besar paralel. Rangga berlari ke dalam rumah, Ia terlihat sangat gembira.
“Ibu, alhamdulillah walaupun kemarin sempat jelek nilainya. Tapi, Allah masih kasih rezeki buat Rangga. Nih Bu, Rangga peringkat kesatu lagi” ujar Rangga menceritakan dan memberi lembaran hasil ujian kepada Ibunya yang tengah mencuci baju di halaman belakang rumahnya. Ibu menghentikan pekerjaannya dan mengambil lembaran itu.
“Alhamdulillah nak, terima kasih ya kamu bisa berusaha untuk kelanjutan sekolahmu. Ibu minta maaf ya nak tidak bisa memberi kamu barang-barang dan pendidikan yang layak untuk kamu. Ibu yakin, kamu akan jadi orang yang sukses! Yang penting, kalau kamu sukses jangan pernah lupa kalau kamu pernah berada di bawah ya nak!” Kata Ibu sembari memeluk anaknya yang masih berseragam biru putih membawa hasil ujiannya.
Sebentar lagi adalah Ujian Nasional untuk siswa-siswi SMA. Rangga bersiap-siap untuk menghadapi Ujian Nasional yang sangat menentukan masa depannya. Keterbatasan ekonomi membuat ia kesulitan membeli buku pelajaran. Ia harus belajar di perpustakaan sekolah atau perpustakaan kota setiap harinya untuk meminjam buku.
“Anak-anak, sudah tinggal 3 hari lagi kita menuju Ujian Nasional. Saat ini, kurangi bermain dan istirahatlah yang cukup. Tidak usah terlalu banyak belajar nanti kalian malah kecapean” ujar ibu Reni, kepala sekolah Rangga.
Rangga berada di dalam kebimbangan yang dia tidak tahu dengan siapa ia harus berkeluh kesah.
“Ibu, saya bingung. Setelah SMA nanti saya akan jadi apa? Saya tidak punya biaya sedikitpun untuk kuliah, untuk kehidupan sehari-hari saja belum mampu tercukupi. Kalau lulusan SMA paling bisa kerja apa sih, Bu?” tanya Rangga sembari curhat dengan Bu Reni.
“Loh? Rangga sayang, kamu tidak boleh nyerah. Masuk universitas yang negeri nak. Di sana banyak sekali program beasiswa. Kamu bukan orang bodoh, kamu sangat pintar. Banyak orang mencari kamu untuk sekolah di sana, bukan menjadi lulusan SMA saja. Ibu janji, Ibu akan bantu kamu mencari informasi beasiswa di universitas negeri” Kata Bu Reni sambil tersenyum memberi dukungan pada Rangga.
“Terima kasih Ibu, saya tidak akan pernah lupa dengan kebaikan Bu Reni selama ini” ujar Rangga menangis mencium tangan gurunya itu.
Rangga memang anak yang disayang oleh guru dan teman-temannya. Ia tidak hanya berprestasi dalam pelajaran. Ia adalah ketua OSIS di SMA-nya. Ia juga memiliki prestasi di bidang Karya Ilmiah Remaja yang berhasil ia menangkan dan mendapat penghargaan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Keaktifannya membantu ia untuk tetap bisa bersekolah.
Ujian Nasional pun berlangsung dalam 4 hari. Rangga menyelesaikannya dengan tenang. Ia sama sekali tidak memiliki keraguan dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan anak kelas IPA ini. Semua ia kerjakan dengan sempurna. Apalagi Kimia, mata pelajaran yang Rangga sangat sukai. Tidak heran lagi, pengumuman telah tiba. Ia menjadi peringkat kesatu di SMA-nya dan peringkat 3 di Kotanya. Kebanggaan yang luar biasa untuk kedua orangtua dan sekolahnya, termasuk dirinya sendiri. Semua tidak membuat Rangga menjadi sombong, ia malah menjadi semakin rendah hati.
“Rangga, ada kabar bagus buat kamu, tadi ada surat dari Universitas Gajah Mada, kamu diminta untuk melanjutkan perguruan tinggi di sana di Teknik Kimia, mendapat beasiswa total dan uang saku kalau kamu selalu mempertahankan peringkatmu. Kamu harus menerima nak, ini rezekimu jangan disia-siakan” Kata Ibu Reni bangga.
“Alhamdulillah Bu, saya pasti mau! Saya janji akan selalu meningkatkan prestasi saya. Saya akan lanjut di sana Bu, universitas impian saya. Terima kasih banyak Ibu” Jawab Rangga berulang kali berterima kasih.
Sahabat-sahabat Rangga sangat senang Rangga bisa melanjutkan sekolahnya. Orangtua Rangga menangis tanpa henti melihat putra satu-satunya dapat tumbuh dewasa dengan usahanya sendiri. Rangga memang anak yang rajin, ulet, dan rendah hati. Sifat yang membawa ia kepada kesuksesan. Awal dari kehidupan yang sebenarnya, roda dalam kehidupan.
TAMAT
Cerpen Karangan: Naomy Bunga Rastafari
Blog: naomy-bunga.tumblr.com
Naomy Bunga Rastafari, SMA Negeri 7 Yogyakarta. Lahir di Yogyakarta, 4 september 1997. twitter: @bungarstfr
Cerita di atas menceritakan sebuah pengalaman yang dialami oleh teman saya. Terima kasih telah membaca.

Proses Morfofonemik



PROSES MORFOFONEMIK
PROSES MORFOFONEMIK

A. Pengertian morfofonemik
    Morfofonemik adalah cabang linguistik yang mempelajari perubahan bunyi diakibatkan adanya pengelompokkan morfem. Berikut pendapat dari beberpa para ahli mengenai morfofonemik;
a.    Nelson francis (1958) menyatakan bahwa morfofonemik mempelajari variasi-variasi yang tampak pada struktur fonemik alomorf-alomorf sebagai akibat pengelompokkan menjadi kata.
b.    Samsuri (1982:28) bahwa morfofonemik merupakan studi tentang perubahan-perubahan fonem yang disebabkan hubungan dua morfem atau lebih serta pemberian tanda-tandanya.
c.    Ramlan, morfofonemik sebagai perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat pertemuan morfem dengan morfem lain.

B. Proses morfofonemik

Morfofonemik bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi enam macam yaitu:
1.    Penghilangan bunyi
2.    Penambahan bunyi
3.    Perubahan bunyi
4.    Perubahan dan penambahan bunyi
5.    Perubahan dan penghilangan bunyi
6.    Pelomcatan bunyi

    Ada beberapa proses morfofonemik dilihat dari sifat pembentukannya. . Proses tersebut adalah proses yang secara otomatis dan proses yang tidak otomatis. Menurut Harimurti Kridalaksana, proses morfofonemik terjadi atas 10 yaitu:
1. Pemunculan fonem
2. Pengekalan fonem
3. Pemunculan dan pengekanan fonem
4. Pergeseran fonem
5. Perubahan dan pergeseran fonem
6. Pelepasan fonem
7. Peluluhan fonem
8. Penyisipan fonem secara historis
9. Pemunculan fonem berdasarkan poka asing
10. Variasi fonem bahasa sumber

Sedangkan Ramlan membagi proses morfofonemik menjadi tiga macam yaitu:
1.    Proses perubahan fonem

    Proses perubahan fonem, misalnya terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya.fonem /m/ pada kedua morfem tersebut berubah menjadi /m, n, ny, ng/ sehingga morfem meN-  berubah menjadi mem-, men-, meny-, dan meng- sementara morfem peN- berubah menjadi pem-, pen-, peny-, peng-. Perubahan-perubahan tersebut tergantumg pada kondisi bentuk dasar yang mengikutinya. Kaidah-kaidah perubahannya dapat berikhtisar sebagai berikut:
a.    Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi /m/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /p, b, f/.
Misalnya:    meN- + paksa: memaksa
        peN- + periksa: memeriksa
        meN- + batik: membatik
        peN- + buru: pemburu
        meN- + fitnah: memfitnah
        peN- + fitnah: pemfitnah

b.    Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi fonem /n/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /t, d, s/. fonem /s/ di sini hanya khusus bagi beberapa bentuk dasar yang berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya.
Misalnya:    meN- + tulis: menulis
        meN- + duga: menduga
        maN- + sukseskan: mensukseskan
        peN- + tulis: penulis
        peN- + datang: pendatang
        peN- + support: pensupport

c.    Fonem /N/ pada morfem meN- dan peN- berubah menjadi // apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /s/ dalam penulisannya tidak dihadirkan, tetapi hanya hadir apabila diucapkan.
Misalnya:    maN- + sapu: menyapu
        peN- +  cukur: pencukur

d.    Fonem /N/ pada meN- dan peN- berubah menjadi /y/ apabila bentuk dasar yang mengikutinya berawal dengan fonem /k, g, x, h, dan vocal/.
Misalnya:    meN- + kacau: mengacau
        meN- + gertak: menggertak
        meN- + hisap: menhisap
        peN- + urus: pengurus

Pada kata mengebom, mengecat, mengelas, juga terdapat proses moefofonemik yang berupa perubahan, yaitu fonem /N/ menjadi /Y/.

2.    Proses penambahan fonem

    Proses penambahan fonem terjadi akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasarnya yang terdiri dari satu suku. Fonem penambahnya adalah /?/, sehingga meN- berubah menjadi menge- dan peN- berubah menjadi penge-.
Misalnya:    meN- + bom: mengebom
        meN- + las: mengelas
        meN- + bur: mengebur
        peN- + bom: pengebom
        peN- + las: pengelas
        peN- + bur: pengebur



3.    Proses hilangnya fonem

    Proses hilangnya fonem /N/ pada meN- dan peN- terjadi sebagai akibat pertemuan morfem meN- dan peN- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /l, r, y, w, dan nasal/.
Misalnya:    meN- + lerai: melerai
        meN- + ramalkan: meramalkan
        meN- + yakinkan: meyakinkan
        meN- + wakili: mewakili
        meN- + nyanyi: menyanyi
        peN- + lerai: pelerai
        peN- + ramal: peramal
        peN- + warna: pewarna
        peN- + nyanyi: penyanyi

    Fonem /r/ pada morfem ber-, per-, dan ter- hilang sebagai akibat pertemuan morfem-morfem itu berawal dengan fonem /r/ dan bentuk dasar yang suku pertamanya berakhir dengan /r/.
Misalnya:    ber- + rapat: berapat
        ber- + kerja: bekerja
        ber- + serta: beserta
        per- + ragakan: peragakan
        ter- + rasa: terasa

    Fonem-fonem /p, t, s, k/ pada awal morfem hilang sebagai akibat pertemuan morfem men- dan pen- dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem-fonem itu.
Misalnya:    meN- + paksa: memaksa
        meN- + tulis: menulis
        meN- + sapu: menyapu
        meN- + karang: mengarang
        peN- + paksa: pemaksa
        peN- + tulis: penulis
        peN- + sapu: penyapu
    Pada kata memperagakan dan mentertawakan fonem /p/ dan /t/ yang merupakan fonem awal bentuk dasar kata itu tidak hilang karena fonem-fonem itu merupakan fonem awal afiks, yaitu per- dan ter-. Demikian juga pada kata-kata menterjemahkan, mensupplay, mengkoordinir, penterjemah, pensurvey, fonem-fonem / t, s, k/ yang merupakan fonem awal bentuk dasar kata itu berasal dari bahasa asing yang masih mempertahankan keasingannya

Cerpen



Cerita ini berdasarkan kisah nyata yang terjadi di negri Tiongkok. Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan  cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

Kemudian pemuda itu berkata: “Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih”; dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar lalu berkata dengan pelan: “dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum:”Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”
Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir:” kuah sayur gratis.”

Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.
” Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.”

Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.
“Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !”

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin di luar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.

Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi?

Suaminya kemudian membisik kepadanya :”Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk di nasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”

“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”

“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.
“Terima kasih, saya sudah selesai makan.”
 
Pemuda ini pamit kepada mereka.
Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.
 
“Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah ke rumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari.

Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik.

Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.
“Apa kabar? Saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.”

“Siapakah direktur diperusahaan kamu ? Mengapa begitu baik terhadap kami? Saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !”  sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.”

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses.

Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka:”bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !”

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. 
















Suatu malam, seorang wanita sedang menunggu di bandara. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di sebuah gerai toko di bandara, lalu menemukan tempat duduk.

Sambil duduk, wanita tersebut memakan kue sambil membaca buku yang baru dibelinya. Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki di sebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua kue yg berada diantara mereka berdua.

Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si “Pencuri Kue” yang pemberani itu menghabiskan persediaannya.

Ia makin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: (“Kalau aku bukan orang baik, tentu sudah kutonjok dia !”).

Setiap ia mengambil satu kue, si lelaki itu juga mengambil satu. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan, dan ia segera mengumpulkan barang-barang miliknya dan menuju pintu gerbang.

Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari buku yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas karena kaget. Ternyata disitu ada kantong kuenya. Koq milikku ada di sini, jadi kue tadi adalah milik siapa. Milik lelaki itu?

Ah, terlambat sudah untuk meminta maaf; ia tersandar dan sedih. Bahwa sesungguhnya akulah yang salah, tak tahu terima kasih dan akulah sesungguhnya sang pencuri kue itu; bukan dia!

Dalam hidup ini, kisah pencuri kue seperti tadi seringkali terjadi. Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri, dan tak jarang kita berprasangka buruk.

Orang lainlah yang selalu salah, orang lain yang patut disingkirkan, orang lain yang tak tahu diri, orang lain yang berdosa, orang lain yang selalu bikin masalah.

Kita sering mengalami hal diatas, kita sering berpikir bahwa kita paling benar sendiri, kita paling suci, kita paling tinggi, kita paling pintar, dst.

Sejak detik ini, bisakah kita memulai untuk rendah hati?

Dan tidak lagi menjadi “pencuri kue” yang teriak “maling..!” kepada orang lain..!