Selasa, 15 September 2015

Cerpen Cahaya Senja Sekejap Hilang


Pagi ini, burung-burung kecil nampak berkicau menyapaku. Aku mulai membuka mataku dan terbangun dari mimpi indahku semalam. Kubuka jendela imutku dan ku pandang langit yang seakan tersenyum menyambut hari ini.
“Kok hari ini sepi ya?” tanyaku dalam hati. Akuu berjalan melewati koridor sekolah menuju kelas.
“Neng, kok hari Minggu sekolah?” tanya penjaga sekolah yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. “Masya Allah. aku lupa” gumamku malu. Aku tersenyum dan berlari meninggalkan kelas dengan perasaan yang super duper malu banget.
“Anak zaman sekarang emang rajin banget toh, saking rajinnya sampai-sampai hari Minggu saja berangkat sekolah, apa ndak cape?” celoteh penjaga sekolah dengan logat jawanya.
Angin sore ini membelai tubuhku lembut. Daun nyiur pun melambai-lambai seakan menertawakanku. Ku ambil sebatang ranting pohon yang berada pada pijakanku, dan ku tuliskan “I MISS YOU” Lalu aku beranjak pulang karena matahari sudah tertidur lelap.
“Nina bangun! Sudah setengah 8 nak, emangnya kamu libur apa? Jam segini kok belum bangun?” seru mamah sambil mengetuk keras pintu kamarku.
Aku sesegera mungkin melompat dari tempat tidur ternyamanku dan ku ambil hp untuk membaca sms yang sudah bertengger di hpku. Aku berlari dan langsung duduk di meja makan dengan muka merah padam menahan malu, karena semua sudah ada di meja makan sebelum aku.
Ku petik setangkai bunga indah yang ku lihat di taman. Ku masih terus menunggu kedatangannya. Andre, dialah pacarku sekarang. Semenjak kejadian 2 minggu yang lalu itu, hubungan kami semakin renggang. Hanya masalah kecil saja amarahnya meluap-luap tak terhingga.
Tiga jam sudah aku menanti di sini namun dia tak kunjung datang. “Apa dia melupakan janji kita?” pikirku dangkal.
Aku beranjak pergi dari tempat yang ku pijak ini. Namun baru beberapa saat ku melangkah air mataku mengalir seketika melihat seseorang yang aku sayang terbujur lemah tak berdaya dikerumuni banyak orang dengan darah yang segar yang terus mengalir dari kepalanya. Ku peluk dia dan ku amati wajah manisnya yang terdiam 1000 bahasa. Dia yang ku tunggu sedari tadi, sekarang ada di pangkuanku dengan kondisi mengenaskan.
Langit pun meneteskan air matanya seakan tahu apa yang kurasakan sekarang. Aku basah kuyup dan ku rasakan tubuhku lemah tak berdaya.
“Bangun Nina! Mana tugas yang Ibu berikan?” Aku terperanjat saat ku sadari ternyata semua itu hanya mimpi. Dan sekarang di hadapanku terlihat guru super killer mmelototiku.
“sebagai hukumannya, sekarang kamu berdiri di koridor sampai waktunya pulang!!”
Galak banget sih. Biasa aja kalee..” batinku.
Aku duduk di antara rumput-rumput ilalang dan burung yang bernyanyi merdu. Ku tuangkan seluruh keluh kesahku kala senja setelah aku selesai dari semua kegiatanku yang sangat melelahkan. Langkah kaki terdengar jelas menghampiriku. Aku menoleh ke belakang. Andre tersenyum dengan paras manisnya dan memberikan sebuah cokelat sebagai permohonan maafnya karena bertindak seperti anak kecil.
Hari ini aku merasa sangat lelah. Pulang les Piano, ku putuskan singgah sebentar di taman untuk memfoto beberapa jenis bunga yang indah. Kameraku terjatuh seketika dan mataku masih menatap fokus ke arah 2 orang yang ku kenal sedang bermesraan. Ini seperti mimpiku tadi malam. Aku memacu motor scoopy pemberian Ayahku dengan mata penuh air mata. Mataku tak jelas melihat sekitar dan cahaya senja perlahan memudar dan hilang.
“Kamu sudah sadar nak?” Terdengar sayu suara Ibuku.
“Aku kok di rumah sakit mah?”
“Iya nak, 2 hari yang lalu kamu kecelakaan dan koma” Ibuku menangis dan mengelus rambut tipisku.
Semenjak kecelakaan itu, aku harus merelakan 1 tanganku hilang. Aku terpuruk, tak berdaya dengan keadaanku sekarang ini. Ibuku terus memotivasiku agar aku tak patah semangat. Hingga pada suatu hari, ku lihat diaryku hampir penuh dan hanya tersisa 2 lembar terakhir.
Senja ini ku putuskan untuk menulis 2 lembar diaryku ini dengan keluh kesahku yang tak ingin ku curahkan pada orang lain. Setelah ku menulis sampai halaman terakhir, aku merasakan lelah luar biasa dan bersamaan dengan itu mataku terasa sangat berat. Aku perlahan tertidur lelap di bawah sinar senja untuk selamanya bersama dengan diaryku yang tergeletak di ribuan pasir yang ku pijak ini.
Cerpen Karangan: Fitri Nur Azizah
Facebook: fifie Little VirgHo
Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Remaja Cerpen Sedih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar