Minggu, 22 Februari 2015

PART 3



Bhinneka Tunggal Ika Maha Karya Persembahan Mpu Tantular
(Ibadah Online)                                                 
-
Kata Bhinneka Tunggal Ika menjadi magnet semboyan bagi bangsa Indonesia,
sebuah konsep multicultural yang
mampu mengangkat dan menunjukkan akan keanekaragaman
bangsa.
BhinnekaTungg
al Ika sebuah warisan berharga bagi bangsa yang dilahirkan memiliki perbedaan
suku, etnis dan agama. Indonesia sungguh beruntung memliki satu sikap pandangan
ini.
Sebuah kata Bhinneka Tunggal Ika yang ada dalam lambang negara Burung Garuda, menghiasi
dind
ing setiap kantor, sekolah dan rumah saja, tetapi seringkali menjadi kutipan dalam berbagai
pidato pejabat, terlebih
-
lebih jika sedang terjadi
peristiwa genting yang dianggap dapat
mengancam kelangsungan persatuan bangsa
dan kesatuan negara.
Bhinneka Tun
ggal Ika itu merupakan sebuah karya sastra agama yang diambil dari kitab
Sutasoma karya Mpu Tantular, dengan kalimat lengkapnya sebagai berikut:
Rwaneka
dhatu
winuwus
Buddha
Wiswa,
Bhinnêki
rakwa
ring
apan
kena
parwanosen,
Mangka
ng
Jinatwa
kalawan
Siwatat
wa
tunggal,
Bhinnêka
tunggal
ika
tan
hana
dharma
mangrwa.
Konon agama Buddha, Hindu dan Siwa merupakan ajaran
zat yang berbeda, namun nilai
-
nilai
mengajaran kebenaran Jina (Buddha), Hindu
dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah , tetapi
satu jualah itu.
Artinya tidak ada kerancuan dalam kebenaran.
Irawan Joko Nugroho seorang penulis buku
Meluruskan Sejarah Majapahit
, mengatakan
Bhineka Tunggal Ika merupakan sastra agama yang tertuang dalam kakawin Sutasoma, namun
implementasi dari konsep ini dijabarkan d
alam kitab NegaraKertagama yang dikarang Mpu
Prapanca.
Dalam Bhinneka Tunggal Ika dijabarkan tentang
sebuah cerita epis yang amanat kitab ini
mengajarkan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu
-
Siwa dan Buddha. Kakawin ini
digubah oleh Mpu Tantu
lar pada abad ke
-
14, pada masa keemasan Majapahit di bawah
kekuasaan prabu Rajasanagara atau Raja Hayam Wuruk.
“Kakawin Sutasoma bisa dikatakan unik dalam khasanah sejarah sastra Jawa
atau bisa dikatakan
sastra agama. Karena merupakan satu
-
satunya kakawin
bersifat epis yang bernafaskan agama
Buddha. Ini menunjukan kalau Mpu Tantular memiliki toleransi keagamaan yang besar ,” ujar
Irawan jebolan Sarjana Sastra Jawa Kuno, Universitas Gadjah Mada.
Menurut Irawan, Mpu Tantular seorang penganut agama Buddha, na
mun orangnya terbuka
terhadap
agama lainnya, terutama agama Hindu
-
Siwa. Hal ini bisa terlihat pada dua kakawin
atau syairnya yang ternama yaitu kakawin Arjunawijaya dan terutama kakawin
Sutasoma.
Mpu
Tantular memiliki pandangan tentang esesnsi nilai
-
ni
lai keagamaan yang universal.
Bahwa agama
-
agama yang ada harus dihormati. Karena jalan yang harus dilalui untuk
menyembah Yang Maha
Agung adalah seperti jalan menuju ke gunung
orang dapat mencapai
puncak gunung itu dari segenap penjuru, dari timur, barat
, utara dan selatan.
Artinya, kata Irawan
banyak cara orang untuk menmanjatkan doa melalui mediasi berbagai
macam kepercayaan atau agama yang diyakini.
Disini Mpu Tantular tidak mempersoalkan latarbelakangan kenyakinan orang, namun yang
terpenting bagaiam
ana membangun toleransi dalam pergaulan sesaman
kemanusiaan sebagai
makhluk ciptaan Tuhan
yang tertuang dalam setia ajaran agama masing
-
masing.
Irawan menjabarkan dimasa kejayaan Majapahit, tidak terjadi konflik antar agama, dan
senantiasa terjadi semang
at toleransi kebersamaan.
Mpu Tantular menggunakan ungkapan itu
khusus kata Bhinneka tunggal Ika untuk merumuskan perpadanan antara Buddha, Hindu
dan
Siwa yang berlaku di Majapahit pada abad keempat
-
belas.
Dalam pengertian segala macam aliran agama, alam
pikiran, kebudayaan dan politik
-
yang pada
waktu itu memang banyak terdapat di Majapahit. Bisa diartikan berbeda
-
beda namun mereka
tetap bersatu di dalam peraturan di kitab Negara Kertagama tidak adalah diskriminasi atau
dualisme.
Pencapaian ini
sudah te
rbangun kebersamaan, persatuan dalam Negara keprabuan
Majapahit.
Konsep ini kemudian diangkat ke dalam ranah politik. Ia menjadi bermakna ’walaupun berbeda
-
beda (suku, agama, ras, kesenian, adat, bahasa, dan lain sebagainya), tetap satu (satu kesatuan
yang
sebangsa dan setanah air Indonesia) jua. Dengan menggunakan kalimat Bhineka Tunggal
Ika sebagai semboyan Indonesia, Indonesia mengapresiasi adanya sejarah nasional sebelumnya
yaitu masa kejayaan kerajaan Majapahit.
Menurut Irawan tokoh negarawan M Yamin y
ang memiliki pengetahuan ketatanegaraan,
mempunyai menilai tentang Bhinneka Tunggal Ika sebagai dasar pemikiran cemerlang Mpu
Tantular, yang diimplementasikan dalam kitab Negara Kertagama. Dimana Majapahit sebagai
kerajaan yang dapat mempersatukan Nusantar
a.
M Yamin, lanjut Irawan, memiliki pemikiran yang luar biasa, bahwa wilayah Nusantara
bukanlah untuk menyatakan luas daerah Majapahit, melainkan ialah wilayah kesatuan geopolitik
yang ditentukan Sang Alam sebagai tumpah darah tempat kediaman bangsa Indone
sia yang sejak
permulaan sejarah menyusun dan menjaga perimbangan kekuasaan terhadap keluar dan kedalam
lingkungan mandala tanah dan air N??ântara itu.
Irawan menambahkan kesatuan Nusantara, juga tertulis dalam
Nagarakrtagama
pupuh
12.6.4
berbunyi:
mwang
N
usantara
sarwa
mandalikârastra
angasraya
akweh
mark
. Artinya: Dan
Nusantara, wilayah yang melingkari, meminta perlindungan, banyak yang menghadap.
Kesatuan Nusantara tersebut terletak pada kata anga?raya ‘meminta perlindungan’. Kalimat ini
adalah kalimat a
ktif. Dengan demikian kesatuan Nusantara itu bukan dari paksaan namun dari
kesadaran bersama untuk bersatu
Kado Indonesia untuk Dunia
Lahirnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang
terpampang melengkung pada sehelai “pita” yang dicengkram kedua kaki burung g
aruda
lambang
negara RI, terinspirasi dari buku Sutasoma karya gemilang Mpu Tantular.
Wawasan pemikiran pujangga besar yang hidup di jaman kejayaan Kerajaan Majapahit itu,
terbukti telah melompat jauh ke depan.
Sesungguhnya karya gemilang
Mpu Tantular se
cara tak langsung
memberikan kado bagi
Indonesia. Para founding fathers
mengadopsi konsep Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
Karena jauh sebelum perjuangan kemerdekaan
dimulai, Mpu Tantular melalui karya buku
Su
tasoma sudah menulis konsep ini. Kala
itu tulisan Mpu Tantular memang belum bicara tentang Indonesia. Dia menulis
dalam rangka
memberikan masukan bagi raja Majapahit dalam membangun bina
hubungan masyarakat
-
negara
di wilayah kekuasaaan Majapahit.
Ketua S
ekolah Tinggi Agama Budha
Syailendra Salatiga, Jawa Tengah, Hastho Bramantyo
mengatakan sebanyak 17 huruf dalam tiga kata Bhineka Tunggal Ika, bermakna mendalam yang
mampu menggambarkan secara utuh dan
menyeluruh hakekat keberagaman jagat semesta raya.
K
arya besar itu lahir melalui dinamika proses perenungan dan kristalisasi
pemikiran yang
panjang, setidaknya membutuhkan waktu satu dasawarsa atau sepuluh
tahun. Konsep dan
formulasi Bhineka Tunggal Ika hasil buah pemikiran gemilang Mpu
Tantular, dicetus
kan tujuh
abad silam dalam karya berjudul Kekawin (pembacaan
ayat
-
ayat suci agama Hindu
-
Budha)
Purusadasanta, atau kini lebih populer dengan
sebutan Kekawin Sutasoma.
Kekawin Sutasoma
menempati posisi penting bersama dengan karya lainnya seperti Pararat
on
dan Negara Kertagama. Kekawin Sutasoma berfungsi sebagai ilmu tentang keagamaan atau
teologi bagi Raja
Rajasanegara pada zaman kerajaan Majapahit. Bagi Indonesia modern, kitab
itu
juga memberikan inspirasi dan tempat ditemukannya moto Bhineka Tunggal
Ika.
Rumusan Bhinneka Tunggal Ika pada dasarnya
merupakan pernyataan daya kreatif dalam upaya
mengatasi keanekaragaman kebudayaan dan keagamaan, sehubungan dengan usaha mencapai
sebenar
-
benar
kemerdekaan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Kini, pas
ca kemerdekaan
itu diraih, Bhinneka Tunggal Ika harus diakui telah memberikan nilai
-
nilai
inspiratif terhadap
sistem pemerintahan dan ketatanegaraan
Sekali lagi perlu diingat, dalam kerangka kesadaran untuk menumbuhkan rasa dan semangat
persatuan itulah B
hinneka Tunggal Ika kemudian diangkat menjadi semboyan yang diabadikan
dalam lambang NKRI Garuda Pancasila.
Dalam lambang NKRI, Garuda Pancasila, pengertiannya tentu tidak terbatas
diterapkan pada
perbedaan kebudayaan, kepercayaan dan keagamaan saja. Mela
inkan
juga terhadap perbedaan
suku, bahasa, adat istiadat (budaya) dan perbedaan
kepulauan (antara nusa) dalam kesatuan
nusantara raya.
Sesuai makna semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang dapat diuraikan bhinna
-
ika
-
tunggal
ika
berarti berbeda
-
beda tetapi
pada hakekatnya satu. Sebab meskipun secara keseluruhannya
memiliki perbedaan tetapi pada
hakekatnya satu, satu bangsa dan negara yakni Republik
Indonesia.
Kini makna Bhinneka Tunggal Ika tak ubahnya isapan jempol saja, beberapa kasus yang terjadi
akhir
-
a
khir ini, sungguh ironis dan memilukan hati, seolah bangsa Indonesia telah kehilangan
kearifan dan kehilangan tolerasni
yang selama ini digadang
-
gadang dengan penuh rasa bangga.
Sederhananya belum lama ini
kasus pengeroyokan Jemaat Ahmadiyah dan Kerusuha
n di
Temanggung, Setidaknya telah membuka lebar mata bahwa pada kenyataanya
belum
sepenuhnya Bhinneka Tunggal Ika benar
-
benar diterapkan dalam kehidupan
Lantas apa salah perbedaan itu jika Sang Penciptanya saja menciptakan manusia
melalui
perbedaannya. M
aka ketika Bhinneka Tunggal Ika hanya menjadi sepotong
kalimat tanpa
makna dan perbuatan, masih cukup pantaskah negara ini menjunjung
tinggi hak asasi manusia di
dalam Pancasila
-
nya?
Sebenarnya jika mau lihat lebih jauh, memanusiakan manusia mungkin lebi
h
tepat daripada
harus baku hantam lewat kekerasan yang kerap kali terjadi
manakala perbedaan muncul
ditengah
-
tengah masyarakat. Inikah Indonesia yang diharapkan?
Perlu kiranya ditegaskan kembali bahwa sejatinya manusia memang dilahirkan untuk
berbeda.
Indonesia pun terdiri dari ribuan pulau, bahasa, etnis, dan agama.
Namun perbedaan itu
membuat kekuatan satu, yang lebih penting adalah
mempraktikkan nilai
-
nilai Bhinneka Tunggal
Ika itu dalam segala aspek kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar