Minggu, 22 Februari 2015

Tinjauan Sejarah Sastra



Kitab Sotasoma, karangan Empu Tantular. Isinya tentang riwayat Sotasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta Buddha. Ia bersedia mengorbankan dirinya untuk kepentingan semua makhluk yang ada dalam kesulitan. Oleh karena itu, banyak orang yang tertolong olehnya. Di dalam Kitab ini terdapat ungkapan yang berbunyi; "Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrawa", yang kemudian dipakai sebagai motto Negara kita. Karya Mpu Tantular yang kedua adalah Sutasoma, Purusada Santa, sebuah cerita moralistik dan didaktik Budha tentang pahlawan Sutasoma yang menyerahkan hidupnya dengan sukarela sebagai mangsa kepada raksasa Kalmasa Pada. Raksasa Kalmasa Pada kagun akan kerelaan itu, dan tidak jadi memakannya, bahkan malah bertobat dan memeluk agama Budha. Sutasoma adalah Bodhisattwa. Naskah Sutasoma Purusada Santa ini banyak menarik perhatian para sarjana, diantaranya Prof. J. Ensink, dalam tahun enampuluhan ia datang ke Indonesia untuk mengadakan penelitian tentang Sutasoma di pulau Bali, hasilnya adalah sebuah tulisan yang berjudul On the Old Javanese Cantakaparwa and its tale of Sutasoma, VKI, 54, 1967. Teks Sutasoma ini juga dijadikan bahan thesis pada Universitas Nasional di Canberra, Australia, oleh Dr. Suwito Santosa pada tahun 1969.
Majapahit dengan konsep Negara Kesatuan-nya telah diuraikan dalam artikel terdahulu, motivasi menuju Negara Kesatuan versi Majapahit ini adalah berkat Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada. Selanjutnya dalam artikel ini akan sedikit diuraikan fakta-fakta negara kesatuan dengan falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang terdapat di dalam lingkungan kota raja Majapahit.

Adalah kitab (kakawin) Sutasoma gubahan Mpu Tantular yang ditulis pada masa keemasan kerajaan Majapahit di bawah pemerintahan raja Sri Rajasanagara (Dyah Hayam Wuruk),  yang diperkirakan ditulis antara tahun 1365 M hingga 1389 M, dan merupakan kakawin yang lebih muda dibandingkan dengan kakawin Negarakertagama.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEheKNjekcyXnl69Paz3_QbXcyjaj5Xv3aCcX49_opDDZX-GAret3-8A5zqUGy3CTyIEM1mnWJQQZfOHk1H33vY3rXxAsh1EB5_Jw1QVx2xdkTu0dFYum8ve0Q4d6jhNg72NbUOdMVWzSC8/s400/fragmen_Sutasoma.jpg
Fragmen lontar Sutasoma, berasal dari Jawa Tengah ditulis dengan aksara Buda

Dari uraian yang terdapat dalam kakawin Sutasoma inilah diperoleh sasanti Bhinneka Tunggal Ika yang lengkapnya adalah Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa. Sasanti tersebut berasal dari pupuh 139 bait yang ke 5, yang isi lengkapnya adalah seperti di bawah ini.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg_W6o_Xsj7eZJ7hxD5aFeXyxpaU7fNZjO45i5dm3RBxvygjHUmveqv_fXMS5kHt_NJMpyc9GtBM6AkdSdq51Zs-_dRpb6UrePR-zzmdPqgVFyHlwRStdLN1iOugaCmYCFD9Yk6XWHilXU/s400/BhinnekaTunggalIka.jpg

Fakta atau kenyataan di lapangan yang masih dapat diketemukan hingga saat ini adalah : di bagian Selatan terdapat kompleks pemukiman Islam yang ditandai dengan adanya kompleks makam Islam Tralaya, di bagian Tengah terdapat kompleks pemukiman Hindu (Siwa) yang ditandai dengan reruntuhan Candi Minakjinggo, serta di bagian Utara terdapat kompleks pemukiman Buda yang ditandai dengan adanya Candi Brahu dan kompleks Candi Gentong (yang diperkirakan bekas stupa). Kesemuanya itu terletak di dalam lingkup wilayah kota raja Majapahit.

Dengan demikian jelaslah bahwa pada masa kejayaan kerajaan Majapahit telah dipraktekkan keberagaman yang menjadi satu kesatuan dan membawa pengaruh terhadap kuatnya kerajaan Majapahit sehingga mampu mencapai kebesaran dan kejayaannya di dalam mempersatukan seluruh wilayah Nusantara.
MAJAPAHIT : BHINNEKA TUNGGAL IKA 9 Out Of 10 Based On 10 Ratings. 9 User Reviews.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar