Senin, 19 Oktober 2015

            AKU BUKAN BERKELANA, AKU HANYA MENUNGGU IA HADIR...
Siang yang indah. Hujan di siang hari,begitu hangat untukku. Betapa tidak, ia memintaku untuk tidak nekat pulang karena hujan. Bagiku, ini hal yang manis terjadi. Bagiku ini hal manis yang terjadi. Jam pelajaran disekolah telah berakhir. Teman – teman di sekolahku juga tengah menunggu hujan berhenti atau paling tidak reda. Ia tengah duduk di bangku panjang , bangku itu berada tepat didepan kelas kami. Aku dengan segala sifat ceplas- ceplos ku, keluar dari dalam kelas dan mengeluh, karena hujan yang tak kunjung mereda.
“ Nah kan hujannya lama banget. Aku mau pulang”  keluhku dengan sedikit manja.
Ia pun langsung menyambar perrkataanku diiringi senyuman manis khas dari dirinya, yang menurutku, senyuman itulah yang sering membuat hatiku berdesir bila melihatnya.
“Santai aja...hujannya masih lama”.
Sontak aku terkejut, ternyata ia ada di sana salah satu dari mereka yang juga duduk di bangku itu.
“Sabar, nanti juga reda”, ia melanjutkan kembali kata-katanya.
Entah, aku dibuat kikuk olehnya.
“Mmmm, mana ? Ini masih deras”.
“Aduh, nggak sabar”.  Kali ini ia mentertawakanku.
Bahkan, aku tak berani berlama-lama menatap matanya. Oh Tuhan. Ia pun terlihat mengambil seuatu dari dalam tas selempang hitamnya.
“Ini”. Ia menyodorkan kantong plastik berwarna kuning transparan yang lumayan besar kepadaku.
Aku heran dan tak mengerti apa maksudnya.
“ Haa ? ”
“Ini, untuk tutupin kepala kamu. Biar nggak kena hujan.”
“Haaaaah ?, itu plastik buat bungkusan beli ikan tau”. Ledekku sambil tertawa.
“Nah, katanya mau pulang. Ya sudah nggak jadi.” Ia sedikit mengancamku.
“E..eh... eh sini ! .“ Dengan perasaan malu dan senang akhirnya plastik tadi aku ambil juga. Padahal, sebenarnya nggak ada romantis-romantisnya. Tapi kenapa ya ? aku merasa seperti ada kupu-kupu menggelitik dihatiku dan tengah menari-menari disana. Akupun kembali masuk kedalam kelas dan langsung duduk di kursi guru yang ada dikelas. “Oh no ! senangnya. Lucu deh,  Aziz punya plastik ini didalam tas. Ah aku lupa bilang makasih” . Sibuk dengan lamunanku, tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. Temanku Teti menatapku dengan penuh keheranan. Wajar.
“Nah, ada apa dengan Billa ? Dapat apa diluar ? “. Suara Teti cukup nyaring, sehingga sebagian teman-temanku dikelas dapat mendengarnya.
“Aduh Teti ” bisikku dalam hati.
“Mmb, kenapa ? nggak ada . Aku bahagia hujan turun lebat. Jadi, pulangnya bisa telat “. Ah gila , kata-kata itu meluncur saja dari mulutku .
Aku melihat Teti keluar dari dalam kelas . Untung saja sepertinya Teti tak curiga padaku. Karena memang, ada berjuta alasan kenapa kita bisa senyum-senyum sendiri.
Satu jam berlalu, aku bersama temanku bersiap-siap pulang.
“ Jadi, dipakai ?”.
Aku terkejut , ternyata Aziz berada dibelakangku.
“Kepo “. Mataku masih mengarah lurus kedepan.
“Nah, kepo katanya”.
Aku menghentikan langkahku dan memberanikan diri untuk menghadapinya dan berkata
“ Makasih ya Aziz Wicaksono”. Aku tersenyum sambil menunjukkan plastik yang ia berikan.
Sesaat Ia pun langsung tertawa.
“Sama-sama,Bil”.
Sejak saat itu , aku dan Aziz kini semakin dekat. Kami sering berkirim pesan diluar jam sekolah. Topik yang dibahas awalnya tentu saja soal pelajaran disekolah, namun berevolusi tentang dunia bola. Yep, tak apa . Aku memang juga suka dengan dunia yang biasa disukai kaum laki-laki ini. Standarku cukup tinggi. Klub bola dari luar negeri, Barcelona. Dan Aziz, sangat suka dengan yang namanya Real Madrid. WOW.
Bagai hujan badai di siang bolong. Hatiku bak diselimuti hujan yang amat deras.Sekejap saja, ia pergi dari duniaku. Ia sekarang pacaran dengan Lida. Anak pindahan yang juga satu kelas denganku. Pantas saja, hampir 2 minggu yang lalu, Aziz sudah sangat jarang membalas pesan dariku. Kalapun dibalas, jumlah suku kata dalam pesannya bisa di hitung. Yang aku tau saat itu, Aziz menyebalkan. Aku benar-benar kesal, malu, marah semua bercampur jadi satu. Cap “Buaya Darat” telah aku sasarkan padanya.
Sering terbakar cemburu, itu sudah pasti. Tapi satu lagi, kecewa dengan Aziz yang tak pernah memasang wajahnya yang bersahabat seperti dulu. Ia terus menghindariku, contoh hal terkecil seperti kontak mata. Ah buseet ! Harusnya kan aku yang begitu.Sahabat jadi cinta masa SMP telah tutup buku. Patah hati dalam diam, menangis dalam diam, itulah aku saat itu.Aku menyembunyikan pengalaman pahitku ini dari teman-teman , termasuk sahabatku sendiri.
Tiga tahun berlalu, kini aku tengah asyik dengan rutinitas sekolahku. Organisasi sering juga aku ikuti. Sekolah yang cukup bergengsi di kotaku, MAN Model Palangkaraya. Disini aku berusaha menerapkan prinsip ”Jangan mengulangi kesalahan yang sama”. Karena cinta, kuakui juga berpengaruh terhadap motivasi dan kensentrasiku dalam belajar” . Selain membuat diri sendiri kecewa, Orang Tua juga akan kena imbasnya. Tapi itu kemarin. Aku punya banyak sahabat disini, salah satunya yang bernama Angga. Orangnya baik, supel,dan humoris.Tenang, aku yakin kali ini kami hanya sebatas sahabat. Aman.
Belajar, kantin, perpustakaan, terlambat datang, upacara, juga bercanda dengan teman-teman yang kini hadir di kehidupanku, itu semua bagian dari aktivitas di tingkat sekolah yang disebut paling seru ini .
“Ada yang hadir menggores luka, dan ada pula sosok yang menyembuhkan luka”. Ya, itu terjadi padaku. Ia membuatku lupa bagaimana menangis, ia mewarnai hariku dengan warna-warna cerah. Hadir dengan sifat apa adanya,humoris,sederhana. Namanya Dimas.
Ia menyatakan cintanya dengan penuh keberanian, dihadapan teman-teman dan juga rekan panitia salah satu kegiatanku yang ada di sekolah.Awalnya aku sempat ragu, karena Dimas bisa juga disebut pemain hati atau lebih dikenal dengan playboy. Entah, aku masih ingin tetap mempercayainya. Dimas juga temanku, dan teman-teman dekatnya juga mereka yang satu kelas denganku. Aku merasa tak canggung. Bahkan, damai rasanya.
Ia mampu membuatku berlari,saaat aku berada dititik lelahku. Ia terus menguatkanku saat aku terjatuh. Ia juga selalu mendukung hobiku dan kegiatanku. Pacar impianku selama ini.
Hingga hari itu tiba. Coretan kecil yang ada di buku catatanku. Dimas membacanya. “Bagaimana ya ? jika kita bersamanya tapi tak memiliki perasan terhadapnya”. Ya Tuhan . Galau “ . Aku memang aneh. Tulisan itu aku tulis sehari setelah peristiwa manis antara aku dan Dimas , 23 Oktober. Ia memang terlihat kecewa. Aku bingung dengan perasaanku sendiri. Selain itu, banyak teman-temanku yang juga tak memberi dukungan terhadap komitmenku dengan Dimas. Yah, cap playboy memang telah tertanam dalam dirinya.
Sebenarnya, sebelum dengan Dimas kalau boleh jujur, bisa dikatakan aku juga seorang PHP, atau entah apalah namanya. Yang jelas kini, aku pikir aku terkena bentuk karmaku .
Hubungan ini berakhir, suatu kejadian yang aku ingat betul saat malam minggu Dimas begitu gila. Ia menuliskan status di akun sosialnya. Tertulis nama mantan kekasihnya. Aku juga kecewa. Tanpa pikir panjang malam itu kami sepakat mengakhirinya. Yang dapat aku simpulkan alasan kuat ini berakhir, Pertama masih dalam bayangan mantan. Kedua,tak punya hati. Dan tak bisa dipungkiri, aku menangis juga akhirnya.Yang selalu di gadang-gadangkan tak akan bertahan lama, benar- benar kejadian .Bulan pun terus berganti, aku tak pernah terlihat murung,sedih, atau sejenis kegalauan lainnya. Aku berusaha tegar,tertawa dan menikmatinya. Namun, aku tak menaruh dendam dengannya. Kami tetap berteman. Aku selalu mengoreksi diriku sendiri, jika aku mulai berpikir menyalahkannya .Aku dengar ia tengah dekat dengan sahabatku Najwa. Ku coba tutup mata dan tutup telinga. Oh,Tuhan apalagi ini ? masa lalu, dan sahabatku.
Setelah putus dari Dimas. Aku bukannya jera. Tapi, ketika diri ingin tertutup. Apa salahnya hati ini terkunci. Toh, aku yakin Tuhan lebih tahu. Biarkan, nanti saja. Biar Tuhan yang pilihkan  memilih sang nada, yang menjadi melodi dalam kehidupanku.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar