AKU BUKAN BERKELANA, AKU HANYA MENUNGGU IA
HADIR...
Siang
yang indah. Hujan di siang hari,begitu hangat untukku. Betapa tidak, ia
memintaku untuk tidak nekat pulang karena hujan. Bagiku, ini hal yang manis
terjadi. Bagiku ini hal manis yang terjadi. Jam pelajaran disekolah telah
berakhir. Teman – teman di sekolahku juga tengah menunggu hujan berhenti atau
paling tidak reda. Ia tengah duduk di bangku panjang , bangku itu berada tepat
didepan kelas kami. Aku dengan segala sifat ceplas- ceplos ku, keluar dari
dalam kelas dan mengeluh, karena hujan yang tak kunjung mereda.
“ Nah kan
hujannya lama banget. Aku mau pulang” keluhku dengan sedikit manja.
Ia pun langsung
menyambar perrkataanku diiringi senyuman manis khas dari dirinya, yang
menurutku, senyuman itulah yang sering membuat hatiku berdesir bila melihatnya.
“Santai aja...hujannya
masih lama”.
Sontak aku
terkejut, ternyata ia ada di sana salah satu dari mereka yang juga duduk di
bangku itu.
“Sabar, nanti juga
reda”, ia melanjutkan kembali kata-katanya.
Entah, aku
dibuat kikuk olehnya.
“Mmmm, mana ?
Ini masih deras”.
“Aduh, nggak
sabar”. Kali ini ia mentertawakanku.
Bahkan, aku tak
berani berlama-lama menatap matanya. Oh Tuhan. Ia pun terlihat mengambil seuatu
dari dalam tas selempang hitamnya.
“Ini”. Ia
menyodorkan kantong plastik berwarna kuning transparan yang lumayan besar
kepadaku.
Aku heran dan tak
mengerti apa maksudnya.
“ Haa ? ”
“Ini, untuk
tutupin kepala kamu. Biar nggak kena hujan.”
“Haaaaah ?, itu
plastik buat bungkusan beli ikan tau”. Ledekku sambil tertawa.
“Nah, katanya
mau pulang. Ya sudah nggak jadi.” Ia sedikit mengancamku.
“E..eh... eh
sini ! .“ Dengan perasaan malu dan senang akhirnya plastik tadi aku ambil juga.
Padahal, sebenarnya nggak ada romantis-romantisnya. Tapi kenapa ya ? aku merasa
seperti ada kupu-kupu menggelitik dihatiku dan tengah menari-menari disana. Akupun
kembali masuk kedalam kelas dan langsung duduk di kursi guru yang ada dikelas. “Oh
no ! senangnya. Lucu deh, Aziz punya
plastik ini didalam tas. Ah aku lupa bilang makasih” . Sibuk dengan lamunanku,
tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. Temanku Teti menatapku dengan penuh
keheranan. Wajar.
“Nah, ada apa
dengan Billa ? Dapat apa diluar ? “. Suara Teti cukup nyaring, sehingga
sebagian teman-temanku dikelas dapat mendengarnya.
“Aduh Teti ” bisikku
dalam hati.
“Mmb, kenapa ?
nggak ada . Aku bahagia hujan turun lebat. Jadi, pulangnya bisa telat “. Ah
gila , kata-kata itu meluncur saja dari mulutku .
Aku melihat Teti
keluar dari dalam kelas . Untung saja sepertinya Teti tak curiga padaku. Karena
memang, ada berjuta alasan kenapa kita bisa senyum-senyum sendiri.
Satu jam
berlalu, aku bersama temanku bersiap-siap pulang.
“ Jadi, dipakai
?”.
Aku terkejut ,
ternyata Aziz berada dibelakangku.
“Kepo “. Mataku
masih mengarah lurus kedepan.
“Nah, kepo
katanya”.
Aku menghentikan
langkahku dan memberanikan diri untuk menghadapinya dan berkata
“ Makasih ya
Aziz Wicaksono”. Aku tersenyum sambil menunjukkan plastik yang ia berikan.
Sesaat Ia pun langsung
tertawa.
“Sama-sama,Bil”.
Sejak
saat itu , aku dan Aziz kini semakin dekat. Kami sering berkirim pesan diluar
jam sekolah. Topik yang dibahas awalnya tentu saja soal pelajaran disekolah,
namun berevolusi tentang dunia bola. Yep,
tak apa . Aku memang juga suka dengan dunia yang biasa disukai kaum laki-laki
ini. Standarku cukup tinggi. Klub bola dari luar negeri, Barcelona. Dan Aziz,
sangat suka dengan yang namanya Real Madrid. WOW.
Bagai
hujan badai di siang bolong. Hatiku bak diselimuti hujan yang amat deras.Sekejap
saja, ia pergi dari duniaku. Ia sekarang pacaran dengan Lida. Anak pindahan
yang juga satu kelas denganku. Pantas saja, hampir 2 minggu yang lalu, Aziz
sudah sangat jarang membalas pesan dariku. Kalapun dibalas, jumlah suku kata
dalam pesannya bisa di hitung. Yang aku tau saat itu, Aziz menyebalkan. Aku
benar-benar kesal, malu, marah semua bercampur jadi satu. Cap “Buaya Darat”
telah aku sasarkan padanya.
Sering
terbakar cemburu, itu sudah pasti. Tapi satu lagi, kecewa dengan Aziz yang tak
pernah memasang wajahnya yang bersahabat seperti dulu. Ia terus menghindariku, contoh
hal terkecil seperti kontak mata. Ah buseet
! Harusnya kan aku yang begitu.Sahabat jadi cinta masa SMP telah tutup
buku. Patah hati dalam diam, menangis dalam diam, itulah aku saat itu.Aku
menyembunyikan pengalaman pahitku ini dari teman-teman , termasuk sahabatku
sendiri.
Tiga
tahun berlalu, kini aku tengah asyik dengan rutinitas sekolahku. Organisasi sering
juga aku ikuti. Sekolah yang cukup bergengsi di kotaku, MAN Model Palangkaraya.
Disini aku berusaha menerapkan prinsip ”Jangan mengulangi kesalahan yang sama”.
Karena cinta, kuakui juga berpengaruh terhadap motivasi dan kensentrasiku dalam
belajar” . Selain membuat diri sendiri kecewa, Orang Tua juga akan kena
imbasnya. Tapi itu kemarin. Aku punya banyak sahabat disini, salah satunya yang
bernama Angga. Orangnya baik, supel,dan humoris.Tenang, aku yakin kali ini kami
hanya sebatas sahabat. Aman.
Belajar, kantin,
perpustakaan, terlambat datang, upacara, juga bercanda dengan teman-teman yang
kini hadir di kehidupanku, itu semua bagian dari aktivitas di tingkat sekolah yang
disebut paling seru ini .
“Ada yang hadir
menggores luka, dan ada pula sosok yang menyembuhkan luka”. Ya, itu terjadi
padaku. Ia membuatku lupa bagaimana menangis, ia mewarnai hariku dengan
warna-warna cerah. Hadir dengan sifat apa adanya,humoris,sederhana. Namanya
Dimas.
Ia
menyatakan cintanya dengan penuh keberanian, dihadapan teman-teman dan juga rekan
panitia salah satu kegiatanku yang ada di sekolah.Awalnya aku sempat ragu,
karena Dimas bisa juga disebut pemain hati atau lebih dikenal dengan playboy. Entah, aku masih ingin tetap
mempercayainya. Dimas juga temanku, dan teman-teman dekatnya juga mereka yang
satu kelas denganku. Aku merasa tak canggung. Bahkan, damai rasanya.
Ia
mampu membuatku berlari,saaat aku berada dititik lelahku. Ia terus menguatkanku
saat aku terjatuh. Ia juga selalu mendukung hobiku dan kegiatanku. Pacar
impianku selama ini.
Hingga
hari itu tiba. Coretan kecil yang ada di buku catatanku. Dimas membacanya. “Bagaimana
ya ? jika kita bersamanya tapi tak memiliki perasan terhadapnya”. Ya Tuhan .
Galau “ . Aku memang aneh. Tulisan itu aku tulis sehari setelah peristiwa manis
antara aku dan Dimas , 23 Oktober. Ia memang terlihat kecewa. Aku bingung
dengan perasaanku sendiri. Selain itu, banyak teman-temanku yang juga tak
memberi dukungan terhadap komitmenku dengan Dimas. Yah, cap playboy memang telah tertanam dalam
dirinya.
Sebenarnya,
sebelum dengan Dimas kalau boleh jujur, bisa dikatakan aku juga seorang PHP,
atau entah apalah namanya. Yang jelas kini, aku pikir aku terkena bentuk karmaku
.
Hubungan
ini berakhir, suatu kejadian yang aku ingat betul saat malam minggu Dimas
begitu gila. Ia menuliskan status di akun sosialnya. Tertulis nama mantan
kekasihnya. Aku juga kecewa. Tanpa pikir panjang malam itu kami sepakat
mengakhirinya. Yang dapat aku simpulkan alasan kuat ini berakhir, Pertama masih
dalam bayangan mantan. Kedua,tak punya hati. Dan tak bisa dipungkiri, aku
menangis juga akhirnya.Yang selalu di gadang-gadangkan tak akan bertahan lama,
benar- benar kejadian .Bulan pun terus berganti, aku tak pernah terlihat
murung,sedih, atau sejenis kegalauan lainnya. Aku berusaha tegar,tertawa dan
menikmatinya. Namun, aku tak menaruh dendam dengannya. Kami tetap berteman. Aku
selalu mengoreksi diriku sendiri, jika aku mulai berpikir menyalahkannya .Aku dengar
ia tengah dekat dengan sahabatku Najwa. Ku coba tutup mata dan tutup telinga.
Oh,Tuhan apalagi ini ? masa lalu, dan sahabatku.
Setelah putus
dari Dimas. Aku bukannya jera. Tapi, ketika diri ingin tertutup. Apa salahnya
hati ini terkunci. Toh, aku yakin Tuhan lebih tahu. Biarkan, nanti saja. Biar Tuhan
yang pilihkan memilih sang nada, yang
menjadi melodi dalam kehidupanku.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar