Senin, 26 Oktober 2015

Asal Usul Cerita Daerah

Naskah Drama “Asal Usul Banyuwangi”
Prolog :
Pada zaman dahulu dikawasan ujung timur Provinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu.

Adegan 1 :
Raden banterang : “Pagi ini aku akan berburu. Siapkan alat berburu”
Pengawal 1 dan 2: “Baik Raden. Peralatan sudah kami siapkan”.
Raden Banterang : “Menurutmu kemana kita ini akan berburu ?”
Pengawal 1 dan 2: “Bagaimana kalau ke hutan saja, karena pasti di hutan banyak kijang melintas”.
Raden Banterang : “Kalau begitu kita berangkat sekarang”.
Pengawal 1 dan 2: “ Siap Raden”.
Raden Banterang : “coba lihat ! ada seekor kijang besar dan bagus. Akan ku panah dia. Waahhhh…. Dia lolos! Akan ku kejar dia.”
Pengawal 1 dan 2: “tunggu Raden. Tunggu kami Raden.”
( kedua pengawal tersebut mengejar Raden, tapi mereka kehilangan jejak Raden di tengah hutan)
Pengawal 1 : “waduuuh!! Bagaimana ini….?? Kita kehilangan jejak Raden
Pengawal 2 : “ya sudah kalau begitu kita tunggu saja di jalan keluar hutan ini” .
Raden Banterang : “ akhirnya kau kena juga kijang…..!!”
( tersenyum senang dan bangga)
“ lho…. Mana para pengawalku ya….?. ehm… pasti kami terpisah gara-gara aku tadi larinya cepat. Tapi, aku yakin mereka pasti menungguku di jalan keluar hutan ini. Karena mereka pasti sudah hafal kebiasaanku.”

Raden Banterang : “Ehmmm…. Gerangan gadis cantik nan jelita itu ya…? Benarkah dia seorang manusia ? atau jangan-jangan “ “penunggu” hutan ini ?/“ kau ini manusia atau penuggu hutan ini ? “.
Surati : “ saya manusia !! nama saya Surati berasal dari kerajaan Klungkung”
Raden Banterang : “lalu mengapa kau ada di sini ?”.
Surati : “ hamba berada di tempat ini karena menyelatkan diri dari serangan musuh. Ayah saya telah gugur dalam pertempuran mempertahankan Mahkota Kerajaan”.

Raden Banterang : “ kalau begitu, apakah kau mau ikut bersamaku ke istana dan menjadi permaisuriku ? “.
Surati : “ apakah saya ini pantas bersanding dengan Raden ?”
Raden Banterang : “ tentu saja, kau adalah gadis tercantik yang pernak kutemui dan hanya kamulah yang aku inginkan menjadi permaisuriku”.
Surati : “ dengan segala kerendahan hati, aku mau menerima lamaran ini. Dengan satu syarat yaitu Raden harus setia dan bisa menjagaku”
Raden Banterang : “ tanpa kau minta pun, aku pasti akan melakukan itu. Karena itu adalah kewajiban seorang ksatria”.
(Setelah itu Raden Banterang bersama dengan Surati menuju keluar hutan).
Pengawal 1 : “nah itu Raden tapi dengan siapa ya ?. Raden, tidak apa-apa kan…? Kami tadi sangat cemas karena kehilangan jejak Raden di hutan.”
Raden Banterang : “ ya.. tadi karena terlalu bersemangat berburu kijang itu sehingga aku lupa bahwa kalian ikut. Tapi, aku bersyukur sekali karena sekaligus menemuksn tambatan hati.”
Pengawal 2 : “ syukurlah kalau Raden sudah mendapatkan tambatan hati.Kami juga ikut senang, kalau Raden senang.”
Raden Banterang : “ ya sudah kalau begitu kita bergegas pulang ke istana dan merayakan pesta pernikahanku dengan Surati”
Pengawal 1 dan 2: “ baik Raden”

Adegan 2 :
Pengawal 1 : “ mohon maaf permaisuri, hamba menghadap”.
Permaisuri : “ dia siapa ? dan mengapa ia kesini ?”
Pengawal 1 : “hamba tidak tahu Permaisuri,yang jelas dia sangat ingin bertemu dengan Permaisuri”.
Permaisuri : “ baiklah, bawa dia ke sini !”.
Pengawal 1 : “ baik Permaisuri”.
Rupaksa : “ Surati ! Surati ! aku ini kakak kandungmu”.
Permaisuri : “ apa benar kau kakakku ?”.
Rupaksa : “ sungguh aku tidak berbohong bahwa aku ini kakakmu yang telah lama terpisah denganmu semenjak dihutan.”
Permaisuri : “ maafkan aku yang sedikit melupakanmu’. ( berpelukan )
Rupaksa : “ sebenarnya selama ini aku mencarimu, lalu aku mendengar bahwa nama Permaisuri Kerajaan ini adalah Surati dan ternyata itu adalah adik kandungku sendiri”.
Permaisuri : “ lalu, apa maksud kedatangan kakak kesini ?’.
Rupaksa : " perlu kau ketahui bahwa yang menyebabkan orang tua kita meninggal adalah mertuamu sendiri”.
Permaisuri : “ kakak tidak bercandakan ?”.
( karena terlalu syok tubuh Permaisuri jadi gemetar )
Rupaksa : “ apa aku kelihatan bercanda ?? dan aku kesini untuk menyerahkan sebuah keris dan gunakanlah untuk membunuh suamimu”.
Permaisuri : “ aku tak mau kak. Walaupun dia anak dari pembunuh orang tua kita,tapi dia telah menyelamatkaku dan akupun mencintainya”.
Rupaksa : “ terus terang bahwa kakakmu ini sangat kecewa sekali karena kau tidak mendukung rencana kakak. Kalau kau tidak mau membunuh suamimu, maka simpanlah keris itu sebagai tanda kenang-kenangan dariku”.
( lalu Rupaksa tersebut pergi karena dia tidak sudi berlama-lama berada di istana )



Adegan 3 :
Rupaksa : “ sembah hamba paduka. Tuanku, keselamatan tuan terancam bahaya kerena Permaisuri punya rencana hendak membunuh Paduka”.
Raden Banterang : “ hai, siapa engkau berani-beraninya memfitnah istriku ? !!”
Rupaksa : “ itu tak penting paduka tahu siapa saya. Kalau Paduka tidak percaya dengan omongan hamba lihatlah sesuatu yang di simpan di bawah bantal Permaisuri”.
Raden Banterang : “ awas saja kalau kau berbohong padaku. Akan kusuruh pengawalku mencarimu dan memberimu hukuman mati”.
( Raden pun pergi ke istana dan langsung menuju kamar pribadi mereka ).
Raden Banterang : “ astaga…!! Ternyta ada keris di bawah bantal istriku”.
( kemudian, Permaisuri masuk ke kamarnya ).
Permaisuri : “ ada apa kakanda…? Sepertinya kakanda sedang marah ?”.
Raden Banterang : “apa benar dinda ingin membunuhku dengan keris ini ?’.
Begitukah balasan dinda pada kanda ?”.
Permaisuri : “ jangan asal tuduh. Adinda sama sekali tidak punya maksud begitu.
Raden Banterang : “lalu buat apa keris ini di bawah bantal dinda ?”.
Permaisuri : “ keris ini adalah kenang-kenangan dari kakak adinda. Sungguh adinda tidak pernah berfikir untuk membunuh kakanda. Bahkan, adinda rela mati demi keselamatan kakanda”.
Raden Banterang : “ kakanda sudah tidak percaya dengan omongan dinda lagi”.
Permaisuri : “ lalu dengan cara apa kakanda percaya pada dinda ?”
Raden Banterang : “ kalau begitu buktikan pada kanda dengan cara masuklah ke dalam sungai itu untuk membuktikan kebenarannya”.
Permaisuri : “ baik, adinda akan melompat ke sungai itu. Apabila dinda
telah masuk ke dalam sungai dan ternyata air sungai ini menjadi jernih serta wangi maka dinda tak bersalah dan sebaliknya apabila airnya keruh dan berbau busuk maka dinda bersalah”.
Raden Banterang : “tercium bau wangi! Ohh…. Dinda maafkanlah kakanda ini yang sudah tidak percaya lagi denganmu. Dengan ini aku sebagai Raja memberi nama kota ini menjadi Banyuwangi.














Naskah
 “ Asal Kota Palangka Raya”
 Maharaja Bunu , anak perempuan yang  sedari kecil selalu berada di kamar dengan dikawal dayang-dayang yang setia mengawal dan menjaga hingga bertahun-tahun lamanya .Ketika beranjak dewasa wanita cantik itu  mendapat perintah  dari orangtuanya untuk  lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam bumi karena ketika berada di khayangan, gadis itu sangat susah diatur . Maharaja Bunu atas ketentuan Ranying Hatalla diturunkan ke bumi (dunia) menjadi nenek moyang manusia (manusia Dayak Kalimantan Tengah). Di Bumi dipilih untuk tempat tinggal Maharaja (Raja) Bunu yakni Bukit Samatuan, dari situlah keturunannya menyebar mengisi muka bumi.
Maharaja Bunu    : “Ah keputusan apa ini ..  mengapa aku dikirimkan ke bumi ?”
Ibunda Maharaja : “Jangan menolak, itu sudah keputusan kami sebagai orang tua kamu”
Maharaja Bunu   : “Tapi apa salahku, sehingga ibunda tega mengirimkan aku ke Bumi ?”
Ibunda Maharaja : “Kamu tidak perlu tanya apa salah kamu, yang pasti ini semua untuk  kebaikan dirimu.”
Maharaja Bunu   : “Kebaikan apa Ibunda ?”
Ibunda Maharaja : “Agar sikapmu dapat berubah menjadi lebih baik . Kau tak perlu takut, kau akan tiba di bumi dengan selamat karena Ibunda telah menyiapkan segala keperluan hidupmu disana nanti.”
Maharaja Bunu  : “Ibunda ?”
Ibunda  dari Maharaja Bunu, Ranying Hatalla diam tak berkata sepatah katapun. Maharaja pun segera meninggalkan ibundanya dan pergi ke hutan untuk melampiaskan kemarahannya.
Tak lama, Maharaja Bunu dari khayangan diturunkan ke bumi memakai kendaraan angkasa yang disebut dengan nama Palangka Bulau Lambayung Nyahu, nelun bulau namburak ije sambang garantung, secara singkat disebut Palangka Bulau.
Palangka Bulau dilengkapi dengan muatan bekal baik sarana dan segala keperluan hidup seperti semua perkakas/peralatan bercocok tanam, berburu, perkakas/ peralatan membuat senjata, bibit padi disebut parei-behas, behas parei nyangen tingang pulut lumpung penyang, bibit buah-buahan/tetumbuhan, bibit ternak/satwa. Parei Behas (Padi Beras) yang merupakan bahan makanan pokok (nasi) sekaligus menjadi tambahan darah daging yang menghidupkan, dan beras (behas) juga dapat digunakan sebagai sarana secara ritual komunikasi.
Sampai di bumi, awalnya Maharaja Bunu sangat sedih, namun seiring berjalannya waktu ia mulai bisa menerima dan menjalani hidup dengan bahagia. Beberapa tahun kemudian ia menikah dengan seorang pria tampan yang sedernana, yang bekerja sebagai petani dan akhirnya memiliki keturunan.
Tak lama, tempat itu dinamakan sebagai wahana angkasa, maka berarti juga Palangka adalah wadah atau tempat. Bulau, artinya emas. Dalam Bahasa Dayak Ngaju, emas, intan dan perak adalah logam mulia menjadi harta kekayaan yang tertinggi nilai nya yang disebut panatau panuhan, sedangkan emas, intan dan perak disebut singkat bulau salaka, artinya logam mulia yang sangat berharga yang tinggi nilainya. Dalam konteks religi Suku Dayak Ngaju, sorga-loka atau sorgawi tempat tinggal terakhir kediaman manusia bersama Ranying Hatalla yang sangat suci, mulia dan besar. digambarkan negeri surgawi itu sebagai : habusung Intan, habaras Bulau, hakarangan Lamiang, maksudnya bahwa indahnya sorga itu tiada taranya, adanya kehidupan yang suci dan mulia di bawah naungan Ranying Hatalla (Tuhan Yang Maha Suci, Maha-esa dan Maha-kuasa, penuh kedamaian dan penuh Ke Agungan. Keadaan dan suasana surgawi yang demikian disingkat dan disimpulkan sebagai hal RAYA. Palangka Bulau = PalangkaRaya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar